Kampus UBMG – Keselamatan dan kesehatan kerja merupakan salah satu pilar utama dalam penyelenggaraan aktivitas laboratorium kesehatan. Penerapan standar keselamatan yang ketat tidak hanya menjadi bagian dari prosedur operasional, tetapi juga menjadi indikator penting dalam menjaga kualitas hasil pemeriksaan laboratorium serta perlindungan terhadap tenaga kesehatan dan lingkungan kerja.
Sebagai bagian dari penguatan kompetensi akademik dan profesional mahasiswa, Program Studi Analis Kesehatan Fakultas Sains, Teknologi dan Ilmu Kesehatan(FSTIK), Universitas Bina Mandiri Gorontalo (UBMG) menyelenggarakan pelatihan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dengan mengusung tema “Bridging Safety to the Lab”.
Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa Prodi Analis Kesehatan UBMG sebagai upaya membangun kesadaran serta pemahaman komprehensif mengenai pentingnya penerapan standar keselamatan kerja di lingkungan laboratorium kesehatan.
Melalui pelatihan ini, mahasiswa diperkenalkan secara sistematis terhadap prinsip-prinsip manajemen risiko, pengendalian bahaya laboratorium, serta penerapan prosedur keselamatan kerja yang sesuai dengan standar nasional maupun praktik profesional di bidang kesehatan.
Ketua Program Studi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) FSTIK UBMG, Arpin, M.Kes, menjelaskan bahwa laboratorium kesehatan merupakan salah satu lingkungan kerja yang memiliki tingkat risiko cukup tinggi, baik yang bersumber dari agen biologis, bahan kimia berbahaya, maupun potensi bahaya fisik.
Menurutnya, oleh karena itu mahasiswa sebagai calon tenaga analis kesehatan perlu dibekali dengan pemahaman yang kuat mengenai prinsip keselamatan kerja sejak berada di bangku perkuliahan.
Di balik setiap hasil pemeriksaan laboratorium yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, terdapat sistem keselamatan kerja yang harus dijalankan secara disiplin dan konsisten.
"Mahasiswa perlu memahami manajemen risiko, penggunaan alat pelindung diri yang tepat, hingga prosedur tanggap darurat agar potensi kecelakaan kerja dapat diminimalkan,” jelas Ketua Prodi Arpin.
Ia juga menekankan bahwa integrasi pendidikan keselamatan kerja dalam kurikulum pembelajaran menjadi bagian penting dalam membentuk tenaga kesehatan yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga memiliki kesadaran tinggi terhadap aspek keselamatan dan etika profesi.
“Pemahaman K3 sejak masa pendidikan akan membentuk karakter tenaga kesehatan yang disiplin, profesional, serta bertanggung jawab terhadap keselamatan diri, rekan kerja, dan lingkungan laboratorium,” tambahnya.
Dalam pelatihan tersebut, mahasiswa mendapatkan berbagai materi yang bersifat teoritis sekaligus praktis. Materi yang disampaikan meliputi penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) sesuai standar laboratorium kesehatan, teknik identifikasi bahaya dan analisis risiko kerja, tata kelola limbah medis dan bahan berbahaya, hingga simulasi penanganan kondisi darurat di laboratorium.
Pendekatan pembelajaran dalam pelatihan ini dirancang secara interaktif dengan menggabungkan pemaparan konsep ilmiah, studi kasus, serta simulasi praktik di lapangan.
Metode tersebut diharapkan mampu meningkatkan pemahaman mahasiswa secara aplikatif sehingga mereka dapat mengimplementasikan prinsip-prinsip keselamatan kerja secara tepat dalam kegiatan praktikum maupun praktik profesional di masa depan.
Sementara itu, Dekan FSTIK UBMG, Adnan Malaha, M.Si, menyampaikan bahwa kegiatan pelatihan ini merupakan bagian dari upaya Fakultas dalam meningkatkan kualitas pembelajaran berbasis praktik serta memperkuat kesiapan lulusan menghadapi tuntutan dunia kerja di bidang kesehatan.
“Kami memberikan apresiasi atas terselenggaranya pelatihan ini karena mampu menjembatani pembelajaran teoritis di kelas dengan praktik nyata di laboratorium. Dalam bidang kesehatan, keselamatan kerja bukan sekadar konsep akademik, tetapi harus menjadi budaya kerja yang melekat pada setiap tenaga profesional,” ungkap Dekan Adnan.
Menurutnya, di era perkembangan teknologi kesehatan yang semakin pesat, tenaga analis kesehatan dituntut memiliki kompetensi multidimensional yang mencakup penguasaan ilmu pengetahuan, keterampilan teknis laboratorium, serta kemampuan menerapkan standar keselamatan kerja secara profesional.
“Lulusan tenaga kesehatan saat ini tidak cukup hanya unggul secara akademik, tetapi juga harus memiliki kompetensi keselamatan kerja yang kuat sebagai bagian dari profesionalisme dan tanggung jawab etis dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat,” tambahnya.
Melalui kegiatan pelatihan ini, Kampus UBMG kembali menegaskan komitmennya dalam menyelenggarakan pendidikan tinggi yang berkualitas dengan menitikberatkan pada penguatan kompetensi akademik, pengembangan keterampilan praktis, serta pembentukan karakter profesional mahasiswa.
UBMG terus mendorong terciptanya ekosistem pembelajaran yang adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sekaligus relevan dengan kebutuhan dunia industri dan layanan kesehatan. Dengan dukungan fasilitas laboratorium yang representatif serta kegiatan akademik yang inovatif, UBMG berupaya mencetak lulusan tenaga kesehatan yang kompeten, berintegritas, dan mampu bersaing di tingkat regional maupun nasional.
Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari strategi penguatan mutu pendidikan di UBMG dalam menghasilkan SDM yang Unggul, Berkarakter dan berdaya saing, serta memiliki kesadaran tinggi terhadap standar keselamatan kerja sebagai fondasi utama dalam praktik layanan kesehatan modern. (hms)