Belajar dari Kyoto University, UBMG Perkuat Layanan Pendidikan Tinggi Inklusif dan Teknologi Asistif

27 Agustus 2026 Akademik
Belajar dari Kyoto University, UBMG Perkuat Layanan Pendidikan Tinggi Inklusif dan Teknologi Asistif

Kampus UBMG — Komitmen Universitas Bina Mandiri Gorontalo (UBMG) dalam memperkuat pendidikan tinggi yang inklusif terus diwujudkan melalui pembelajaran internasional. Kali ini, UBMG mempelajari praktik pengelolaan layanan disabilitas dan pemanfaatan teknologi asistif melalui kunjungan ke Kyoto University, Jepang, Rabu (26/8/2026).



Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 15.00 waktu Jepang tersebut menjadi bagian dari rangkaian pembelajaran internasional UBMG dalam mendalami tata kelola pendidikan tinggi inklusif. Fokus kunjungan mencakup pengenalan Disability Resource Center (DRC), observasi unit layanan disabilitas, serta dialog mengenai sistem akomodasi yang layak bagi mahasiswa penyandang disabilitas.



Delegasi UBMG terdiri atas Dr. Ayu Anastasya Rachman, S.I.P., M.A., selaku Kepala Kantor Urusan Internasional UBMG, dan Dr. Imam Mashudi, S.Pd., M.Pd., selaku Ketua Unit Layanan Disabilitas (ULD) UBMG.



Dalam kunjungan tersebut, delegasi diperkenalkan dengan lingkungan akademik Kyoto University, termasuk peta kampus serta struktur unit layanan disabilitas yang berada dalam Agency for Student Support and Disability Resources. Pengenalan tersebut memberikan gambaran mengenai bagaimana layanan bagi mahasiswa penyandang disabilitas diintegrasikan ke dalam ekosistem dukungan mahasiswa di perguruan tinggi.



Materi mengenai praktik teknologi asistif disampaikan oleh Jun Murata, Associate Professor pada Agency for Student Support and Disability Resources, sekaligus Director/Chief Coordinator Disability Resource Center, Director Disability Inclusion Center, serta Director Higher Education Accessibility Platform.



Dalam pemaparannya, Murata menjelaskan bahwa teknologi asistif tidak hanya dipandang sebagai perangkat pendukung, tetapi menjadi bagian dari strategi akomodasi yang layak untuk mengurangi hambatan mahasiswa dalam belajar dan berpartisipasi secara penuh dalam kehidupan akademik.



Pendekatan tersebut menjadi salah satu pembelajaran penting bagi UBMG. Layanan pendidikan inklusif tidak berhenti pada penyediaan fasilitas, tetapi perlu dibangun melalui pemahaman terhadap kebutuhan individual mahasiswa, asesmen yang tepat, koordinasi lintas unit, serta pemanfaatan teknologi yang mendukung kemandirian dan aksesibilitas.



Kyoto University sendiri merupakan salah satu perguruan tinggi terkemuka di Jepang yang berdiri sejak 1897. Universitas ini memiliki sekitar 22.300 mahasiswa serta 8.400 dosen dan tenaga kependidikan yang tersebar pada tiga lokasi utama. Mahasiswa penyandang disabilitas diterima pada berbagai jenjang Pendidikan.



Dalam sistem DRC Kyoto University, mahasiswa penyandang disabilitas tidak ditempatkan semata-mata sebagai penerima bantuan, tetapi dipandang sebagai pembelajar aktif sekaligus mitra dalam penelitian dan pengembangan layanan. Perspektif tersebut menunjukkan pentingnya membangun layanan yang berorientasi pada pemberdayaan dan partisipasi mahasiswa.

DRC menyediakan berbagai bentuk dukungan, mulai dari konsultasi, asesmen individual, koordinasi akomodasi akademik, aksesibilitas informasi, penyesuaian lingkungan, dukungan komunikasi, teknologi asistif, hingga akomodasi dalam pelaksanaan ujian.



Hingga 19 Juni 2026, tercatat 266 mahasiswa terdaftar pada DRC, dengan sekitar 64 persen di antaranya mengajukan akomodasi yang layak. Data tersebut menunjukkan bagaimana layanan disabilitas menjadi bagian penting dalam memastikan mahasiswa dapat mengikuti proses pendidikan secara setara.



Salah satu praktik yang menarik perhatian delegasi UBMG adalah keberadaan student supporters, yakni mahasiswa non-disabilitas yang dilibatkan sebagai pendamping. Mereka melalui proses seleksi kelayakan oleh DRC, mendapatkan pelatihan sebelum menjalankan tugas, serta memperoleh pembayaran sesuai tugas pendampingan yang dilakukan.



Pendamping ditugaskan berdasarkan jadwal perkuliahan dan kebutuhan mahasiswa, baik dalam mendukung proses pembelajaran maupun pengaturan kegiatan akademik. Ketika kebutuhan mahasiswa tidak dapat dipenuhi melalui pendamping, DRC akan memfasilitasi bentuk dukungan tambahan yang diperlukan.



Sistem tersebut diperkuat oleh tenaga profesional bersertifikat, di antaranya pekerja sosial, psikolog, terapis wicara-bahasa, serta tenaga profesional dengan pengalaman panjang dalam layanan disabilitas. Proses layanan dilakukan secara sistematis, mulai dari konsultasi dan pemahaman kondisi mahasiswa, asesmen kebutuhan, penyusunan rekomendasi, penetapan akomodasi bersama fakultas, hingga pelaksanaan dan pemantauan dukungan.



Setelah memperoleh pemaparan, delegasi UBMG melanjutkan kegiatan dengan observasi langsung terhadap ruang DRC dan fasilitas pendukung. Kegiatan kemudian dilanjutkan melalui diskusi dan sesi tanya jawab untuk memperdalam pemahaman mengenai implementasi layanan disabilitas di lingkungan perguruan tinggi.



Bagi UBMG, kunjungan ke Kyoto University menjadi referensi strategis dalam pengembangan Unit Layanan Disabilitas yang semakin profesional, responsif, dan berbasis kebutuhan mahasiswa. Praktik yang dipelajari diharapkan dapat menjadi inspirasi dalam penguatan kapasitas sumber daya manusia, pengembangan sistem pendamping mahasiswa, pemanfaatan teknologi asistif, serta peningkatan koordinasi layanan di lingkungan kampus.



Lebih dari sekadar kunjungan akademik, pembelajaran di Kyoto University menjadi bagian dari langkah UBMG untuk terus menghadirkan lingkungan pendidikan yang memberikan kesempatan belajar secara setara bagi seluruh mahasiswa. Pengalaman internasional ini sekaligus memperkuat komitmen UBMG untuk membangun perguruan tinggi yang unggul, berkarakter, dan mengglobal, dengan pendidikan inklusif sebagai bagian dari pengembangan mutu layanan akademik.

Bagikan artikel ini:
Facebook WhatsApp
)