Orasi Dihadapan Ratusan Wisudawan UBMG, Prof Akmal: Teknologi Boleh Melesat, Tapi Integritas Tidak Boleh Tertinggal

24 Februari 2026 Akademik
Orasi Dihadapan Ratusan Wisudawan UBMG, Prof Akmal: Teknologi Boleh Melesat, Tapi Integritas Tidak Boleh Tertinggal

Kampus UBMG - Prosesi wisuda bukan sekadar seremoni akademik. Ia adalah penanda peralihan dari dunia pembelajaran terstruktur menuju medan kehidupan yang sesungguhnya.

Pesan itulah yang mengemuka dalam orasi ilmiah Prof. Dr. Akmal Umar, M.Si pada Wisuda Angkatan VI Universitas Bina Mandiri (UBM) Gorontalo Tahun 2025.

Di hadapan para lulusan, Prof. Akmal mengingatkan bahwa tantangan masa depan tidak cukup dijawab dengan kecerdasan intelektual semata.

Dunia yang berubah cepat menuntut lahirnya pemimpin yang utuh: berkarakter, berwawasan, mampu bekerja dalam sistem, sekaligus adaptif terhadap teknologi.

Mengusung tema “Kepemimpinan Empat Dimensi: Tradisional, Konvensional, Transformasional, dan Digital”, orasi ini menjadi refleksi tentang arah kepemimpinan generasi baru di tengah realitas global yang penuh ketidakpastian.

Prof. Akmal menggambarkan dunia hari ini sebagai era VUCA penuh gejolak, ketidakpastian, kompleksitas, dan ambiguitas.

Disrupsi teknologi, kecerdasan buatan, hingga perubahan pola kerja telah menggeser cara manusia belajar, bekerja, dan memimpin.

Dalam situasi demikian, kepemimpinan, menurutnya, tidak lagi semata-mata soal jabatan, melainkan soal kesanggupan memimpin diri sendiri dan memberi arah bagi sesama.

Empat dimensi kepemimpinan yang ia tawarkan menjadi semacam kompas. Nilai dan etika dari kepemimpinan tradisional menjaga manusia agar tidak tercerabut dari akar moralnya. Sistem dan profesionalisme dari kepemimpinan konvensional memastikan kerja berjalan tertib dan berkelanjutan. Visi dan daya inspirasi dari kepemimpinan transformasional menggerakkan perubahan. Sementara literasi digital menjadi syarat agar kepemimpinan tetap relevan di era teknologi.

“Teknologi boleh melesat, tetapi integritas tidak boleh tertinggal,” tegasnya.

Di akhir orasi, Prof. Akmal menyampaikan pesan yang sederhana namun mendalam, wisuda bukan akhir belajar, melainkan awal pembelajaran seumur hidup.

Kegagalan adalah bagian dari proses, mimpi besar harus dirawat dengan langkah kecil yang konsisten, dan dalam dunia yang semakin mekanistik, empati tetap menjadi kualitas kepemimpinan yang tak tergantikan.

Orasi tersebut menegaskan peran perguruan tinggi sebagai ruang pembentukan manusia, bukan sekadar pencetak gelar.

Bagi UBM Gorontalo, wisuda Angkatan VI bukan hanya keberhasilan akademik, tetapi juga ikrar untuk terus melahirkan pemimpin masa depan yang berpijak pada nilai, bekerja dalam sistem, bergerak dengan visi, dan bijak memanfaatkan teknologi. (hms)

Bagikan artikel ini:
Facebook WhatsApp