Presentasi di Kyoto University, UBMG Perkuat Komitmen Wujudkan Kampus Inklusif

29 Agustus 2026 Akademik
Presentasi di Kyoto University, UBMG Perkuat Komitmen Wujudkan Kampus Inklusif

Kampus UBMG — Universitas Bina Mandiri Gorontalo (UBMG) terus memperkuat komitmennya dalam membangun ekosistem pendidikan tinggi yang inklusif. Komitmen tersebut diwujudkan melalui keikutsertaan UBMG dalam Japan Fellowship for University Leaders on Disability-Inclusive Higher Education yang memasuki hari kelima di Kyoto University, Jepang, Jumat (28/8/2026).



Hari kelima program menjadi momentum penting bagi UBMG untuk menerjemahkan berbagai pembelajaran selama rangkaian fellowship ke dalam rancangan kebijakan dan rencana aksi yang dapat diterapkan di lingkungan kampus. UBMG diwakili oleh Kepala Kantor Urusan Internasional UBMG, Dr. Ayu Anastasya Rachman, S.I.P., M.A., dan Ketua Unit Layanan Disabilitas (ULD) UBMG, Dr. Imam Mashudi, S.Pd., M.Pd.



Selama program, para peserta memperoleh pembelajaran dan praktik langsung dari sejumlah institusi di Jepang, di antaranya The Nippon Foundation, The Open University of Japan, Tsukuba University of Technology, Kyoto University, OMRON Kyoto Taiyo, dan Kyoto Job Park. Berbagai praktik tersebut diterjemahkan menjadi arah kebijakan serta rencana tindak lanjut di masing-masing perguruan tinggi termasuk UBMG.



Pada sesi pertama yang berlangsung pukul 09.00–11.00 waktu Jepang, peserta melakukan refleksi dan diskusi mengenai praktik pendidikan tinggi inklusif yang telah dipelajari sepanjang program. Pembahasan mencakup penyusunan pedoman layanan disabilitas, mekanisme akomodasi yang layak, peningkatan kapasitas dosen dan tenaga kependidikan, pemanfaatan teknologi asistif, pendampingan mahasiswa, hingga penguatan transisi mahasiswa penyandang disabilitas menuju dunia kerja.


Pembelajaran tersebut kemudian dilanjutkan melalui penyusunan action plan pada sesi pukul 11.00–14.00 waktu Jepang. Pada tahap ini, UBMG mulai merumuskan rancangan pedoman yang diarahkan untuk menjadi acuan dalam membangun layanan pendidikan tinggi yang lebih adaptif, ramah, dan berorientasi pada pemenuhan hak mahasiswa penyandang disabilitas.



Gagasan utama yang dirumuskan UBMG adalah “Universal Design University”, sebuah kerangka perubahan budaya kampus yang mendorong terciptanya lingkungan pendidikan yang peduli, adaptif, ramah, tulus, dan berkomitmen terhadap kesetaraan.



Konsep tersebut menempatkan pimpinan universitas, dosen, mahasiswa, Unit Layanan Disabilitas, serta mitra eksternal sebagai bagian dari ekosistem yang memiliki peran saling melengkapi. Dengan pendekatan ini, inklusivitas tidak hanya ditempatkan sebagai layanan khusus, tetapi menjadi bagian dari budaya dan tata kelola universitas.



Pada tingkat kebijakan, rancangan pedoman UBMG diarahkan pada tiga fokus utama, yakni penguatan kebijakan kampus yang menjamin akomodasi layak dan mendorong advokasi nondiskriminasi; penyediaan dukungan pendanaan tahunan serta diversifikasi sumber pembiayaan untuk program inklusif; dan pengembangan kemitraan dengan perguruan tinggi, 



Sementara itu, pada tingkat fakultas dan dosen, UBMG merancang penguatan layanan yang mencakup seluruh perjalanan mahasiswa, mulai dari penerimaan mahasiswa baru, layanan akademik dan kemahasiswaan, hingga layanan pengembangan karier. Implementasinya akan diperkuat melalui forum diskusi kelompok terarah (focus group discussion) dan simulasi pemberian layanan kepada mahasiswa penyandang disabilitas.



UBMG juga memberikan perhatian pada penguatan peer-support melalui rancangan pedoman pendampingan antarmahasiswa. Dukungan tersebut mencakup kebutuhan seperti pencatatan materi perkuliahan (note-taking) dan dukungan penerjemahan bahasa isyarat, sehingga mahasiswa penyandang disabilitas dapat mengikuti proses pembelajaran secara lebih optimal.



Dari sisi penguatan kapasitas mahasiswa penyandang disabilitas, UBMG mengembangkan nilai HUYULA sebagai bagian dari pendekatan pemberdayaan, yang mencakup hak setara, unjuk kemampuan, yakin dan percaya diri, upaya kemandirian, literasi digital, serta aktif berjejaring. Sejumlah program awal yang dirancang antara lain seminar pemahaman diri, pelatihan kepemimpinan dan kemandirian, serta pelatihan desain grafis.



Rancangan action plan tersebut selanjutnya dipresentasikan di hadapan akademisi Kyoto University untuk memperoleh masukan dan penguatan. Presentasi UBMG mendapatkan tanggapan dan masukan dari Jun Murata, Associate Professor sekaligus Director/Chief Coordinator Disability Resource Center (DRC) dan Director Disability Inclusion Center (DIIN Center), serta Keita Kusunoki, Senior Lecturer sekaligus Deputy Director DRC dan Deputy Director DIIN Center Kyoto University.



Masukan dari kedua akademisi tersebut menjadi bagian penting dalam penyempurnaan rancangan UBMG agar pedoman yang disusun tidak hanya memiliki visi yang kuat, tetapi juga realistis, terukur, dan dapat diterapkan secara bertahap sesuai dengan kebutuhan serta kapasitas universitas.



Bagi UBMG, keikutsertaan dalam fellowship ini bukan sekadar kesempatan untuk mempelajari praktik pendidikan inklusif di Jepang, tetapi menjadi langkah strategis untuk membawa pengetahuan dan pengalaman internasional ke dalam pengembangan kebijakan kampus.

Melalui penyusunan Universal Design University, UBMG menegaskan arah pengembangan kampus yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berkarakter, adaptif, dan memberikan ruang yang setara bagi setiap mahasiswa untuk berkembang.



Langkah tersebut sekaligus memperkuat komitmen UBMG dalam membangun pendidikan tinggi yang inklusif dan berkelanjutan, serta memperluas kontribusi kampus dalam menghadirkan lingkungan pendidikan yang menghargai keberagaman, kesetaraan, dan potensi setiap individu.

Bagikan artikel ini:
Facebook WhatsApp
)