Dari Ikhtiar Daerah Menuju Kampus UBM
(Unggul, Berkarakter, dan Mengglobal)
Catatan praktisi pendidikan, Ketua sekaligus Pendiri Yayasan Bina Mandiri Gorontalo
Dr. Ir. Azis Rachman, ST, MM, IPM, ASEAN Eng
Sebagai pendiri sekaligus Ketua Yayasan Bina Mandiri Gorontalo, saya diberikan waktu singkat untuk menjelaskan tentang rekam jejak Transformasi Berdirinya Yayasan Bina Mandiri Gorontalo, Saya melihat perjalanan membangun lembaga pendidikan bukan sekadar membangun gedung, membuka program studi, atau mengejar jumlah mahasiswa. Yang jauh lebih penting adalah membangun kepercayaan, tata kelola, sumber daya manusia, budaya mutu, dan keberlanjutan lembaga. Karena itu, transformasi yang kami lakukan sejak awal selalu ditempatkan sebagai proses bertahap: mulai dari yang kecil, memperkuat fondasi, bertumbuh berdasarkan kebutuhan, kemudian bertransformasi menuju institusi yang unggul dan berdaya saing.
Rekam jejak tersebut dapat dilihat secara nyata dari perjalanan kelembagaan sejak STIM Boalemo pada 2008, berubah menjadi STIM Bisnis Gorontalo pada 2011, diperkuat dengan pendirian STIKES Bina Mandiri Gorontalo pada 2014, hingga akhirnya STIM Bisnis dan STIKES digabung menjadi Universitas Bina Mandiri Gorontalo pada 18 Oktober 2019 melalui SK Menristekdikti Nomor 1033/KPT/I/2019.
Membangun dari Daerah: 2008 sebagai Titik Awal
Perjalanan pendidikan tinggi Bina Mandiri dimulai dari Boalemo. Tahun 2008, STIM Boalemo memperoleh izin melalui SK Mendiknas No. 59/D/O/2008 tanggal 28 Maret 2008, dengan tiga program studi: S1 Manajemen, DIII Sekretari, dan DIII Administrasi Perkantoran.
Pilihan memulai dari daerah merupakan bagian dari keyakinan kami bahwa pendidikan berkualitas tidak harus selalu tumbuh dari pusat-pusat kota besar. Daerah juga harus memiliki keberanian membangun pusat pertumbuhan sumber daya manusia.
Pada tahap pertama ini strategi kami sangat sederhana: hadir, membangun kepercayaan masyarakat, memperkuat pelayanan mahasiswa, menyediakan SDM dan infrastruktur dasar, kemudian memastikan lembaga dapat bertahan dan berkembang.
2011: Berani Berubah untuk Memperluas Jangkauan
Setelah fondasi awal terbentuk, kami menyadari bahwa sebuah lembaga pendidikan tidak boleh berhenti pada kondisi yang sudah dicapai. Tahun 2011 menjadi fase transformasi berikutnya. STIM Boalemo berubah menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen dan Bisnis Gorontalo berdasarkan SK Mendiknas RI Nomor 124/E/O/2011, sekaligus memindahkan kampus induk dari Kabupaten Boalemo ke wilayah Gorontalo.
Bagi saya, keputusan ini merupakan pelajaran penting dalam manajemen pendidikan: keberanian melakukan perubahan harus didasarkan pada visi jangka panjang, bukan semata-mata mempertahankan kenyamanan organisasi.
Kampus harus berada lebih dekat dengan pusat pertumbuhan penduduk, pemerintahan, dunia usaha, industri, dan akses pendidikan. Dengan demikian, transformasi kelembagaan mulai diarahkan dari sekadar survive menjadi growth.
2014: Diversifikasi Pendidikan melalui Bidang Kesehatan
Tahapan selanjutnya adalah memperluas bidang keilmuan. Tahun 2014 Yayasan memperoleh izin menyelenggarakan STIKES Bina Mandiri Gorontalo berdasarkan SK Mendikbud No. 86/E/O/2014, dengan empat program studi: Farmasi, Gizi, Administrasi Rumah Sakit, dan Analis Kesehatan.
Pendirian STIKES bukan sekadar menambah lembaga. Strateginya adalah diversifikasi bidang pendidikan berdasarkan kebutuhan masyarakat dan pembangunan daerah.
Dari pengalaman tersebut kami belajar bahwa lembaga pendidikan harus mampu membaca perubahan kebutuhan SDM. Pendidikan tidak boleh hanya menyediakan apa yang mampu diselenggarakan oleh institusi, tetapi harus semakin mampu menyediakan kompetensi yang benar-benar dibutuhkan masyarakat, pemerintah, dunia kerja, dan masa depan.
2019: Integrasi Kekuatan Menjadi Universitas
Tahun 2019 menjadi momentum transformasi terbesar. Dua kekuatan yang sebelumnya berjalan dalam rumpun berbeda STIM Bisnis pada bidang manajemen dan bisnis serta STIKES pada bidang kesehatan kami integrasikan.
Melalui SK Menristekdikti Nomor 1033/KPT/I/2019 tanggal 18 Oktober 2019, kedua sekolah tinggi tersebut resmi digabung menjadi Universitas Bina Mandiri Gorontalo.
Bagi saya, perubahan menjadi universitas bukanlah tujuan akhir. Universitas adalah kendaraan yang lebih besar untuk mencapai cita-cita yang lebih besar.
Karena itu setelah 2019, orientasi Yayasan berubah dari sekadar pengembangan kelembagaan menjadi transformasi mutu.
Bahkan pada awal perjalanan sebagai universitas, kondisi UBM belum seperti sekarang. Dokumen Rapat Kerja 2021 mencatat UBM menghadapi pekerjaan rumah yang besar dalam akreditasi dan pemeringkatan; pada 2020 UBM berada pada peringkat 1.231 dari 2.136 perguruan tinggi dalam klasterisasi perguruan tinggi Kemendikbud.
Bagi kami, kondisi tersebut bukan sesuatu yang harus ditutupi. Justru itulah baseline untuk melakukan perubahan.
Dari Pertumbuhan Menuju Lima Pilar Transformasi
Pengalaman lebih dari satu dekade kemudian kami rumuskan menjadi pendekatan yang lebih sistematis. Menurut saya, ada lima strategi utama yang menjadi fondasi perjalanan Bina Mandiri.
Pertama, tata kelola yang unggul. Yayasan harus mampu membedakan secara sehat fungsi badan penyelenggara dan pengelola perguruan tinggi. Organisasi diperkuat, sistem kerja dibangun, transparansi dan akuntabilitas dikembangkan, serta pengambilan keputusan semakin diarahkan berbasis data.
Kedua, pendidikan berkualitas. Pertumbuhan program studi harus disertai peningkatan kurikulum, sarana pembelajaran, laboratorium, teknologi, penjaminan mutu dan relevansi terhadap kebutuhan dunia kerja.
Ketiga, penguatan SDM. Gedung yang bagus tidak akan menghasilkan pendidikan yang baik tanpa dosen dan tenaga kependidikan yang berkualitas. Karena itu investasi terbesar lembaga pendidikan seharusnya tetap pada manusia: pendidikan lanjut, kompetensi, jabatan akademik, sertifikasi, penelitian, inovasi, dan budaya kerja.
Keempat, kemitraan dan kolaborasi. Kampus tidak boleh tumbuh sendirian. Pemerintah, dunia usaha dan industri, organisasi profesi, perguruan tinggi nasional maupun internasional serta masyarakat harus menjadi bagian dari ekosistem pengembangan institusi.
Kelima, keberlanjutan dan kemandirian. Institusi harus memiliki kemampuan membiayai pertumbuhan, mengembangkan sumber pendapatan, memanfaatkan aset secara produktif, berinovasi, dan tetap menyediakan akses pendidikan yang inklusif.
Kelima strategi tersebut pada akhirnya harus bergerak dalam satu siklus: evaluasi diri → perencanaan strategis → implementasi → monitoring dan evaluasi → perbaikan berkelanjutan. Pendekatan perencanaan, evaluasi, penetapan target dan program tahunan ini juga telah tercermin dalam dokumen Rapat Kerja UBM sejak periode awal transformasi universitas.
2020–2026: Dari Universitas Baru Menuju Ekosistem Pendidikan
Setelah menjadi universitas, strategi kami bukan lagi sekadar menambah jumlah mahasiswa. Yang dibangun adalah ekosistem pendidikan.
Pada 2019–2021 UBM masih memiliki dua fakultas dan tujuh program studi. Setelah itu pengembangan kelembagaan dan program studi terus dilakukan.
Perjalanan ini bahkan sekarang telah mencapai jenjang pendidikan tertinggi. UBM telah mengembangkan Program Doktor (S3) Manajemen, yang secara kelembagaan merupakan kelanjutan dari perjalanan STIM Boalemo → STIM Bisnis Gorontalo → Universitas Bina Mandiri Gorontalo.
Inilah yang saya maknai sebagai transformasi: bukan perubahan nama lembaga, melainkan perubahan kapasitas, kualitas, budaya, dan keberanian menentukan masa depan.
“Unggul, Berkarakter, Mengglobal” sebagai Arah Perjalanan
Bagi saya, tiga kata ini tidak boleh berhenti menjadi slogan.
Unggul berarti seluruh lembaga di bawah Yayasan harus memiliki budaya mutu dan berusaha menghasilkan prestasi akademik maupun nonakademik.
Berkarakter berarti pendidikan harus melahirkan manusia yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki integritas, moral, tanggung jawab, nilai keislaman, kebangsaan, dan kearifan lokal Gorontalo.
Sedangkan mengglobal bukan berarti meninggalkan identitas lokal. Justru prinsip yang ingin kami bangun adalah:
Berakar kuat di Gorontalo, tetapi memiliki wawasan, kompetensi, jejaring, dan daya saing global.
Karena itu saya memandang masa depan Yayasan Bina Mandiri Gorontalo bukan hanya tentang membesarkan UBM. Tantangannya adalah membangun ekosistem pendidikan berkelanjutan dari berbagai jenjang, menghubungkan pendidikan dengan inovasi, kewirausahaan, teknologi dan kebutuhan pembangunan.
Pelajaran dari Rekam Jejak
Dari perjalanan sejak 2008 sampai sekarang, saya sampai pada satu kesimpulan sederhana: lembaga pendidikan besar tidak dibangun sekaligus. Ia dibangun melalui keberanian memulai, kemampuan membaca perubahan, konsistensi menjaga mutu, keberanian bertransformasi, serta kesediaan terus mengevaluasi diri.
Kita pernah memulai dari tiga program studi di sebuah sekolah tinggi di daerah. Kita kemudian berpindah, berkembang, mendirikan institusi kesehatan, mengintegrasikan dua sekolah tinggi menjadi universitas, memperluas fakultas dan program studi, membangun infrastruktur dan SDM, hingga mengembangkan pendidikan pascasarjana dan doktor.
Karena itu, ukuran keberhasilan Yayasan bukan semata seberapa besar institusi yang telah kita bangun hari ini. Ukuran sesungguhnya adalah seberapa kuat fondasi yang kita siapkan agar lembaga ini tetap tumbuh, mandiri, relevan dan memberi manfaat jauh setelah generasi pendirinya selesai menjalankan tugas.
Itulah filosofi yang ingin terus kami jaga dalam perjalanan Yayasan Bina Mandiri Gorontalo:
“Mulai dari yang kecil, bertumbuh dengan keberanian, bertransformasi dengan mutu, dan bergerak dari Gorontalo menuju Indonesia serta dunia.”