UBMG Pelajari Model Ketenagakerjaan Inklusif di OMRON Kyoto Taiyo, Jepang

28 Agustus 2026 Akademik
UBMG Pelajari Model Ketenagakerjaan Inklusif di OMRON Kyoto Taiyo, Jepang

Kampus UBMG — Komitmen Universitas Bina Mandiri Gorontalo (UBMG) dalam membangun pendidikan tinggi yang inklusif terus diperkuat melalui pembelajaran dari praktik terbaik di tingkat internasional. Dalam rangkaian Japan Fellowship for University Leaders on Disability-Inclusive Higher Education, UBMG melanjutkan kunjungan pembelajaran ke OMRON Kyoto Taiyo, Kyoto, Jepang, Kamis (27/8/2026).

 

 

Kunjungan yang dimulai pukul 09.30 waktu Jepang tersebut menjadi kesempatan bagi UBMG untuk melihat secara langsung bagaimana prinsip inklusivitas diterapkan dalam lingkungan industri, khususnya dalam membuka kesempatan kerja yang setara bagi penyandang disabilitas tanpa mengesampingkan produktivitas dan standar profesional.

 

 

Delegasi UBMG terdiri atas Dr. Ayu Anastasya Rachman, S.I.P., M.A., selaku Kepala Kantor Urusan Internasional (KUI) UBMG, dan Dr. Imam Mashudi, S.Pd., M.Pd., selaku Ketua Unit Layanan Disabilitas (ULD) UBMG.

 

 

Rangkaian kunjungan diawali dengan pemaparan profil OMRON Kyoto Taiyo dan pemutaran video mengenai perusahaan. Delegasi kemudian melakukan observasi langsung terhadap proses kerja di lingkungan perusahaan selama kurang lebih dua setengah jam. Kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab untuk menggali lebih jauh praktik ketenagakerjaan inklusif yang diterapkan OMRON Kyoto Taiyo.

 

 

Dalam kunjungan tersebut, delegasi UBMG memperoleh gambaran mengenai filosofi OMRON yang menempatkan penghormatan terhadap setiap individu sebagai bagian penting dalam membangun lingkungan kerja. Prinsip OMRON, “to improve lives and contribute to a better society,” menjadi landasan dalam mendorong terciptanya lingkungan yang memberikan ruang bagi setiap individu untuk berkembang dan berkontribusi.

 

 

Prinsip tersebut sejalan dengan semangat “No Charity, But a Chance”, yakni pendekatan yang memandang penyandang disabilitas bukan sebagai penerima belas kasihan, melainkan sebagai individu yang memiliki kemampuan dan berhak memperoleh kesempatan kerja yang setara, bermartabat, serta produktif.

 

 

Semangat tersebut memiliki sejarah panjang dalam perjalanan OMRON Taiyo. Kolaborasi antara Dr. Yutaka Nakamura, pendiri Japan Sun Industries, dan Kazuma Tateishi, pendiri OMRON Corporation, kemudian melahirkan OMRON Taiyo Co., Ltd. sebagai perusahaan bersama pada 1972. Model tersebut menjadi bagian dari perjalanan pengembangan praktik ketenagakerjaan yang memberikan ruang lebih luas bagi penyandang disabilitas untuk berpartisipasi dalam dunia kerja.

 

 

Pihak perusahaan menjelaskan bahwa OMRON memiliki dua lokasi utama dalam penerapan model tersebut, yakni OMRON Kyoto Taiyo di Kyoto dan OMRON Taiyo di Beppu. OMRON Kyoto Taiyo memiliki sekitar 180 karyawan tetap, dengan kurang lebih 65 persen di antaranya merupakan pekerja penyandang disabilitas.

 

 

Komposisi tersebut memberikan gambaran bahwa inklusi di OMRON Kyoto Taiyo bukan sekadar program sosial atau kegiatan tambahan perusahaan, melainkan telah menjadi bagian dari pengelolaan sumber daya manusia dan proses produksi.

 

 

Praktik inklusif juga terlihat dalam desain pekerjaan dan penyesuaian lingkungan kerja. Sejumlah aktivitas produksi dirancang agar dapat dilakukan sambil duduk, sehingga pekerja dengan kebutuhan mobilitas tertentu tetap dapat menjalankan tugas secara aman dan produktif.

 

 

Penyesuaian lingkungan kerja tersebut dilakukan dengan tetap mempertahankan stabilitas proses produksi dan mutu produk. Hal ini menunjukkan bahwa lingkungan kerja yang inklusif dapat berjalan beriringan dengan tuntutan profesionalisme, produktivitas, dan kualitas.

 

 

Selain penyesuaian pada lingkungan kerja, OMRON Kyoto Taiyo juga mengembangkan Supporting People to Improve Stability (SPIS), yaitu sistem pendukung komunikasi yang tersedia dalam bentuk kertas maupun berbasis web.

 

 

SPIS membantu pekerja, khususnya pekerja dengan disabilitas mental dan perkembangan, untuk menyampaikan kondisi, kebutuhan, maupun kendala yang mereka hadapi melalui komunikasi tertulis. Pendekatan tersebut memberikan alternatif komunikasi yang lebih nyaman bagi pekerja yang mengalami hambatan dalam menyampaikan kondisi secara langsung melalui komunikasi tatap muka.

 

 

Bagi UBMG, praktik tersebut memberikan pembelajaran bahwa pendidikan tinggi inklusif perlu dipersiapkan tidak hanya untuk memastikan mahasiswa dapat mengikuti proses pembelajaran di kampus, tetapi juga untuk membangun kesiapan mereka menghadapi dunia kerja.

 

 

Karena itu, pengalaman di OMRON Kyoto Taiyo menjadi referensi penting bagi UBMG dalam memperkuat ekosistem layanan bagi mahasiswa penyandang disabilitas. Penguatan keterampilan, layanan transisi karier, pemanfaatan teknologi aksesibilitas, pendampingan, hingga pengembangan kemitraan dengan dunia usaha dan dunia industri menjadi bagian yang perlu dipersiapkan secara berkelanjutan.

 

 

Kunjungan ini juga memperkuat peran Unit Layanan Disabilitas (ULD) UBMG dalam mendorong terciptanya lingkungan pendidikan yang semakin responsif terhadap keberagaman kebutuhan mahasiswa. Pengetahuan yang diperoleh dari praktik di Jepang diharapkan dapat menjadi inspirasi untuk mengembangkan pendekatan yang relevan dengan kebutuhan dan konteks pendidikan tinggi di Indonesia.

 

 

Melalui keterlibatan dalam Japan Fellowship, UBMG tidak hanya memperluas jejaring internasional, tetapi juga membawa pulang pengetahuan dan perspektif global untuk mendukung peningkatan mutu layanan di lingkungan kampus. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses UBMG untuk terus belajar, beradaptasi, dan menghadirkan inovasi yang berdampak bagi mahasiswa.

 

 

Bagi UBMG, inklusivitas bukan sekadar menyediakan akses, tetapi memastikan setiap mahasiswa memiliki kesempatan untuk berkembang, mandiri, berprestasi, dan mempersiapkan masa depan secara setara.

 

 

Pembelajaran dari OMRON Kyoto Taiyo semakin menegaskan komitmen UBMG untuk membangun pendidikan tinggi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan dunia kerja. Dengan memperkuat layanan disabilitas, jejaring internasional, serta kemitraan dengan dunia usaha dan industri, UBMG terus bergerak menuju kampus yang inklusif, adaptif, berdaya saing, dan berdampak.

Bagikan artikel ini:
Facebook WhatsApp
)