Kampus UBMG — Komitmen Universitas Bina Mandiri Gorontalo (UBMG) dalam
membangun pendidikan tinggi yang inklusif terus diperkuat melalui pembelajaran
dari praktik terbaik di tingkat internasional. Dalam rangkaian Japan
Fellowship for University Leaders on Disability-Inclusive Higher Education,
UBMG melanjutkan kunjungan pembelajaran ke OMRON Kyoto Taiyo, Kyoto, Jepang,
Kamis (27/8/2026).
Kunjungan yang dimulai pukul 09.30 waktu Jepang tersebut menjadi
kesempatan bagi UBMG untuk melihat secara langsung bagaimana prinsip
inklusivitas diterapkan dalam lingkungan industri, khususnya dalam membuka
kesempatan kerja yang setara bagi penyandang disabilitas tanpa mengesampingkan
produktivitas dan standar profesional.
Delegasi UBMG terdiri atas Dr. Ayu Anastasya Rachman, S.I.P., M.A.,
selaku Kepala Kantor Urusan Internasional (KUI) UBMG, dan Dr. Imam Mashudi,
S.Pd., M.Pd., selaku Ketua Unit Layanan Disabilitas (ULD) UBMG.
Rangkaian kunjungan diawali dengan pemaparan profil OMRON Kyoto Taiyo dan
pemutaran video mengenai perusahaan. Delegasi kemudian melakukan observasi
langsung terhadap proses kerja di lingkungan perusahaan selama kurang lebih dua
setengah jam. Kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab untuk
menggali lebih jauh praktik ketenagakerjaan inklusif yang diterapkan OMRON
Kyoto Taiyo.
Dalam kunjungan tersebut, delegasi UBMG memperoleh gambaran mengenai
filosofi OMRON yang menempatkan penghormatan terhadap setiap individu sebagai
bagian penting dalam membangun lingkungan kerja. Prinsip OMRON, “to improve
lives and contribute to a better society,” menjadi landasan dalam mendorong
terciptanya lingkungan yang memberikan ruang bagi setiap individu untuk
berkembang dan berkontribusi.
Prinsip tersebut sejalan dengan semangat “No Charity, But a Chance”,
yakni pendekatan yang memandang penyandang disabilitas bukan sebagai penerima
belas kasihan, melainkan sebagai individu yang memiliki kemampuan dan berhak
memperoleh kesempatan kerja yang setara, bermartabat, serta produktif.
Semangat tersebut memiliki sejarah panjang dalam perjalanan OMRON Taiyo.
Kolaborasi antara Dr. Yutaka Nakamura, pendiri Japan Sun Industries, dan Kazuma
Tateishi, pendiri OMRON Corporation, kemudian melahirkan OMRON Taiyo Co., Ltd.
sebagai perusahaan bersama pada 1972. Model tersebut menjadi bagian dari
perjalanan pengembangan praktik ketenagakerjaan yang memberikan ruang lebih
luas bagi penyandang disabilitas untuk berpartisipasi dalam dunia kerja.
Pihak perusahaan menjelaskan bahwa OMRON memiliki dua lokasi utama dalam
penerapan model tersebut, yakni OMRON Kyoto Taiyo di Kyoto dan OMRON Taiyo di
Beppu. OMRON Kyoto Taiyo memiliki sekitar 180 karyawan tetap, dengan kurang
lebih 65 persen di antaranya merupakan pekerja penyandang disabilitas.
Komposisi tersebut memberikan gambaran bahwa inklusi di OMRON Kyoto
Taiyo bukan sekadar program sosial atau kegiatan tambahan perusahaan, melainkan
telah menjadi bagian dari pengelolaan sumber daya manusia dan proses produksi.
Praktik inklusif juga terlihat dalam desain pekerjaan dan penyesuaian
lingkungan kerja. Sejumlah aktivitas produksi dirancang agar dapat dilakukan
sambil duduk, sehingga pekerja dengan kebutuhan mobilitas tertentu tetap dapat
menjalankan tugas secara aman dan produktif.
Penyesuaian lingkungan kerja tersebut dilakukan dengan tetap
mempertahankan stabilitas proses produksi dan mutu produk. Hal ini menunjukkan
bahwa lingkungan kerja yang inklusif dapat berjalan beriringan dengan tuntutan
profesionalisme, produktivitas, dan kualitas.
Selain penyesuaian pada lingkungan kerja, OMRON Kyoto Taiyo juga
mengembangkan Supporting People to Improve Stability (SPIS), yaitu sistem
pendukung komunikasi yang tersedia dalam bentuk kertas maupun berbasis web.
SPIS membantu pekerja, khususnya pekerja dengan disabilitas mental dan
perkembangan, untuk menyampaikan kondisi, kebutuhan, maupun kendala yang mereka
hadapi melalui komunikasi tertulis. Pendekatan tersebut memberikan alternatif
komunikasi yang lebih nyaman bagi pekerja yang mengalami hambatan dalam
menyampaikan kondisi secara langsung melalui komunikasi tatap muka.
Bagi UBMG, praktik tersebut memberikan pembelajaran bahwa pendidikan
tinggi inklusif perlu dipersiapkan tidak hanya untuk memastikan mahasiswa dapat
mengikuti proses pembelajaran di kampus, tetapi juga untuk membangun kesiapan
mereka menghadapi dunia kerja.
Karena itu, pengalaman di OMRON Kyoto Taiyo menjadi referensi penting
bagi UBMG dalam memperkuat ekosistem layanan bagi mahasiswa penyandang
disabilitas. Penguatan keterampilan, layanan transisi karier, pemanfaatan
teknologi aksesibilitas, pendampingan, hingga pengembangan kemitraan dengan
dunia usaha dan dunia industri menjadi bagian yang perlu dipersiapkan secara
berkelanjutan.
Kunjungan ini juga memperkuat peran Unit Layanan Disabilitas (ULD) UBMG
dalam mendorong terciptanya lingkungan pendidikan yang semakin responsif
terhadap keberagaman kebutuhan mahasiswa. Pengetahuan yang diperoleh dari
praktik di Jepang diharapkan dapat menjadi inspirasi untuk mengembangkan
pendekatan yang relevan dengan kebutuhan dan konteks pendidikan tinggi di
Indonesia.
Melalui keterlibatan dalam Japan Fellowship, UBMG tidak hanya
memperluas jejaring internasional, tetapi juga membawa pulang pengetahuan dan
perspektif global untuk mendukung peningkatan mutu layanan di lingkungan
kampus. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses UBMG untuk terus
belajar, beradaptasi, dan menghadirkan inovasi yang berdampak bagi mahasiswa.
Bagi UBMG, inklusivitas bukan sekadar menyediakan akses, tetapi
memastikan setiap mahasiswa memiliki kesempatan untuk berkembang, mandiri,
berprestasi, dan mempersiapkan masa depan secara setara.
Pembelajaran dari OMRON Kyoto Taiyo semakin menegaskan komitmen UBMG
untuk membangun pendidikan tinggi yang tidak hanya unggul secara akademik,
tetapi juga mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan dunia kerja. Dengan
memperkuat layanan disabilitas, jejaring internasional, serta kemitraan dengan
dunia usaha dan industri, UBMG terus bergerak menuju kampus yang inklusif,
adaptif, berdaya saing, dan berdampak.