119 MAHASISWA UBM GORONTALO DILEPAS, SIAP WUJUDKAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT BERBASIS SDGs

28 Juli 2026 Kegiatan
119 MAHASISWA UBM GORONTALO DILEPAS, SIAP WUJUDKAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT BERBASIS SDGs

119 MAHASISWA UBM GORONTALO DILEPAS, SIAP WUJUDKAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT BERBASIS SDGs

GORONTALO – Kuliah Kerja Mandiri (KKM) Universitas Bina Mandiri Gorontalo Tahun 2026 diarahkan menjadi laboratorium sosial bagi mahasiswa untuk mengimplementasikan ilmu pengetahuan sekaligus mengambil bagian dalam agenda pembangunan berkelanjutan.

Sebanyak 119 mahasiswa KKM Reguler akan melaksanakan pengabdian di 19 desa dengan mengusung tema “Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Sustainable Development Goals (SDGs) melalui Kolaborasi Multidisiplin.”

Tema tersebut menegaskan arah baru pengabdian mahasiswa UBM Gorontalo yang tidak hanya berorientasi pada pelaksanaan kegiatan, tetapi mendorong lahirnya program yang terintegrasi, berbasis kebutuhan masyarakat, dan memiliki perspektif keberlanjutan.

Pelepasan KKM Reguler dilaksanakan di Lapangan Universitas Bina Mandiri Gorontalo dan dipimpin oleh Plt. Wakil Rektor I UBM Gorontalo, Dr. Rizal Aminudin, SE, M.Si. Hadir dalam kegiatan tersebut jajaran pimpinan universitas, Ketua LPPM, para dekan, ketua program studi, Dosen Pendamping Lapangan, serta mahasiswa peserta KKM.

Dr. Rizal Aminudin, SE, M.Si., menjelaskan bahwa pendekatan SDGs memberikan kerangka bagi mahasiswa untuk memahami persoalan masyarakat secara lebih komprehensif.

“SDGs mengajarkan kita untuk melihat pembangunan secara terintegrasi. Karena itu, mahasiswa harus mampu melihat hubungan antara pendidikan, kesehatan, ekonomi, lingkungan, tata kelola, dan aspek sosial lainnya. Semua itu saling berkaitan dan membutuhkan pendekatan yang kolaboratif,” ungkap Rizal.

Menurutnya, kolaborasi multidisiplin merupakan kebutuhan penting dalam menjawab persoalan masyarakat yang semakin kompleks.

“Mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu harus mampu bekerja bersama. Ketika ilmu pendidikan bertemu dengan teknologi, ekonomi, kesehatan, manajemen, dan ilmu sosial, maka akan lahir perspektif yang lebih lengkap dalam menyelesaikan persoalan masyarakat,” jelasnya.

Ia berharap KKM menjadi ruang bagi mahasiswa untuk membangun kemampuan berpikir kritis, bekerja lintas disiplin, serta merancang solusi yang tidak hanya menyelesaikan persoalan jangka pendek, tetapi juga memiliki nilai keberlanjutan.

Sementara itu, Ketua LPPM UBM Gorontalo, Tri Setiawati Maulana, S.Pd., M.Pd., mengatakan bahwa tema SDGs dipilih untuk memperkuat orientasi pengabdian agar program mahasiswa memiliki relevansi dengan kebutuhan pembangunan masyarakat.

“KKM tahun ini kami arahkan agar mahasiswa tidak sekadar melaksanakan kegiatan, tetapi mampu membangun program berdasarkan hasil identifikasi kebutuhan masyarakat. SDGs menjadi salah satu kerangka agar mahasiswa dapat melihat persoalan secara lebih luas dan menyusun intervensi yang lebih terarah,” ujar Tri.

Ia menambahkan, masyarakat harus ditempatkan sebagai subjek utama dalam proses pemberdayaan.

“Pemberdayaan tidak boleh dilakukan dengan pendekatan satu arah. Masyarakat harus dilibatkan sejak proses identifikasi masalah, perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi. Mahasiswa hadir sebagai mitra dan fasilitator yang membantu memperkuat potensi masyarakat,” katanya.

Program KKM Reguler akan diarahkan pada berbagai bidang strategis, meliputi pendidikan, kesehatan, penguatan ekonomi masyarakat, lingkungan hidup, teknologi tepat guna, tata kelola pemerintahan desa, serta penguatan kelembagaan masyarakat.

Sebanyak 19 Dosen Pendamping Lapangan akan memastikan proses pendampingan berjalan secara terarah, mulai dari pemetaan kebutuhan, penyusunan program, pelaksanaan, monitoring, hingga evaluasi kegiatan.

KKM Reguler tersebut tersebar di tujuh desa di Kecamatan Kabila Bone, Kabupaten Bone Bolango; tiga desa di Kecamatan Limboto Barat dan dua desa di Kecamatan Bilato, Kabupaten Gorontalo; enam desa di Kecamatan Randangan, Kabupaten Pohuwato; serta satu desa di Kecamatan Bungku Tengah, Kabupaten Morowali.

Dalam konteks yang lebih luas, KKM UBM Gorontalo Tahun 2026 juga memiliki dimensi internasional

Program pengabdian mahasiswa tahun ini terbagi menjadi dua jalur, yakni KKM Reguler sebanyak 119 mahasiswa dan KKM Internasional sebanyak 24 mahasiswa yang akan melaksanakan pengabdian selama 28 hari di Malaysia.

Menurut Tri, dua jalur tersebut merupakan bagian dari upaya memperluas pengalaman mahasiswa dalam memahami pengabdian, baik dari perspektif lokal maupun global.

“KKM Reguler memperkuat keterlibatan mahasiswa dalam pemberdayaan masyarakat di tingkat desa, sedangkan KKM Internasional memberikan ruang bagi mahasiswa untuk memperoleh pengalaman lintas negara. Keduanya saling melengkapi dalam membentuk mahasiswa yang memiliki kompetensi, karakter pengabdian, dan wawasan global,” tuturnya.

Dengan total 143 mahasiswa yang terlibat dalam dua jalur pengabdian tersebut, UBM Gorontalo berupaya memperkuat posisi perguruan tinggi sebagai bagian dari ekosistem pembangunan masyarakat.

KKM tidak lagi dipandang semata sebagai kegiatan akademik yang harus diselesaikan mahasiswa, tetapi sebagai ruang strategis untuk mempertemukan ilmu pengetahuan, kebutuhan masyarakat, inovasi, kolaborasi, dan pembangunan berkelanjutan.

Jika KKM Reguler menjadi ruang mahasiswa untuk menerjemahkan ilmu menjadi aksi di 19 desa, maka KKM Internasional membuka cakrawala baru melalui pengalaman pengabdian di Malaysia.

Keduanya berpijak pada semangat yang sama: membangun mahasiswa yang mampu berpikir kritis, bekerja kolaboratif, memiliki kepedulian sosial, dan siap menghadapi tantangan global.

Melalui KKM Tahun 2026, UBM Gorontalo menegaskan komitmennya bahwa kampus tidak hanya mencetak lulusan yang kompeten, tetapi juga membangun generasi yang mampu hadir, bekerja bersama, dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dan pembangunan berkelanjutan.

Bagikan artikel ini:
Facebook WhatsApp
)