DILEPAS KE 19 DESA, MAHASISWA UBM GORONTALO SIAP MENGABDI, BERINOVASI, DAN MEMBERI DAMPAK
GORONTALO – Sebanyak 119 mahasiswa Universitas Bina Mandiri Gorontalo (UBM Gorontalo) memulai perjalanan pengabdian mereka. Dilepas dari kampus, para mahasiswa akan bergerak menuju 19 desa untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat, menggali persoalan, mengembangkan potensi, dan menghadirkan berbagai program yang diharapkan mampu memberikan manfaat nyata.
Pelepasan mahasiswa Kuliah Kerja Mandiri (KKM) Reguler Tahun Akademik 2025/2026 tersebut berlangsung di Lapangan Universitas Bina Mandiri Gorontalo. Kegiatan dipimpin oleh Plt. Wakil Rektor I UBM Gorontalo, Dr. Rizal Aminudin, SE, M.Si., dan dihadiri jajaran pimpinan universitas, Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), para dekan, ketua program studi, Dosen Pendamping Lapangan (DPL), serta seluruh mahasiswa peserta KKM.
Bagi UBM Gorontalo, keberangkatan mahasiswa ke 19 desa bukan sekadar agenda rutin perguruan tinggi. KKM menjadi momentum untuk menguji sejauh mana ilmu yang diperoleh mahasiswa di bangku kuliah dapat diterjemahkan menjadi aksi nyata ketika berhadapan langsung dengan dinamika kehidupan masyarakat.
Di desa, mahasiswa ditantang untuk tidak hanya menjadi pelaksana program. Mereka diharapkan mampu menjadi pendengar yang baik, mitra masyarakat, sekaligus penggerak yang dapat membantu menemukan solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.
Dr. Rizal Aminudin, SE, M.Si., mengatakan bahwa mahasiswa harus mampu menjadikan KKM sebagai pengalaman pembelajaran yang membentuk kepekaan sosial sekaligus kemampuan menyelesaikan persoalan secara nyata.
“Mahasiswa tidak cukup hanya memiliki pengetahuan secara akademik. Mereka harus mampu menerjemahkan pengetahuan itu menjadi sesuatu yang bermanfaat. Karena itu, selama berada di desa, mahasiswa harus belajar memahami masyarakat, mendengar kebutuhan mereka, kemudian bersama-sama mencari solusi yang dapat memberikan manfaat,” ujar Rizal.
Ia menegaskan, mahasiswa yang berada di lokasi KKM membawa nama besar almamater. Karena itu, sikap, perilaku, etika, dan kemampuan membangun komunikasi dengan masyarakat menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari keberhasilan pengabdian.
“Saya berpesan kepada seluruh mahasiswa, jadilah duta UBM Gorontalo yang baik. Jaga nama baik almamater, hormati masyarakat, bangun komunikasi dengan pemerintah desa, dan tunjukkan bahwa mahasiswa mampu hadir sebagai bagian dari solusi. Jangan hanya mengejar selesainya program, tetapi pikirkan apa yang dapat ditinggalkan untuk masyarakat,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua LPPM UBM Gorontalo, Tri Setiawati Maulana, S.Pd., M.Pd., mengatakan bahwa mahasiswa akan diarahkan untuk mengembangkan program yang memiliki keterkaitan langsung dengan kondisi dan potensi masing-masing wilayah.
Menurutnya, setiap desa memiliki karakteristik dan persoalan yang berbeda. Karena itu, pendekatan KKM tidak dapat dilakukan dengan pola yang sama untuk semua lokasi.
“Mahasiswa harus melihat desa sebagai ruang belajar yang nyata. Kenali potensinya, pahami persoalannya, dan libatkan masyarakat dalam setiap proses. Program yang baik adalah program yang dibutuhkan masyarakat dan dapat memberikan manfaat yang bisa dirasakan,” kata Tri.
Ia berharap, kehadiran mahasiswa dapat menghadirkan berbagai inovasi yang sederhana tetapi tepat guna, sehingga mampu membantu masyarakat dalam mengembangkan potensi yang dimiliki.
“Kami ingin mahasiswa hadir bukan hanya untuk membuat kegiatan, tetapi menciptakan dampak. Sekecil apa pun inovasi yang dihasilkan, sepanjang sesuai kebutuhan dan dapat dilanjutkan oleh masyarakat, itu akan menjadi nilai penting dari pengabdian,” jelasnya.
Dalam pelaksanaan KKM Reguler Tahun 2026, mahasiswa akan melaksanakan berbagai program yang menyentuh bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, lingkungan hidup, teknologi tepat guna, tata kelola pemerintahan desa, hingga penguatan kelembagaan masyarakat.
Sebanyak 19 Dosen Pendamping Lapangan akan mendampingi mahasiswa di 19 desa.
Kehadiran DPL menjadi bagian penting untuk memastikan mahasiswa mendapatkan arahan dan pendampingan selama menjalankan program pengabdian.
Sebanyak tujuh desa berada di Kecamatan Kabila Bone, Kabupaten Bone Bolango; tiga desa di Kecamatan Limboto Barat dan dua desa di Kecamatan Bilato, Kabupaten Gorontalo; enam desa di Kecamatan Randangan, Kabupaten Pohuwato; serta satu desa di Kecamatan Bungku Tengah, Kabupaten Morowali.
KKM UBM Gorontalo Tahun 2026 sendiri dilaksanakan melalui dua jalur pengabdian. Selain KKM Reguler yang diikuti 119 mahasiswa di 19 desa, UBM Gorontalo juga melaksanakan KKM Internasional yang diikuti 24 mahasiswa selama 28 hari di Malaysia.
Dua jalur tersebut memperlihatkan bahwa pengalaman pengabdian mahasiswa UBM Gorontalo tidak hanya dibangun melalui ruang kelas, tetapi juga melalui interaksi langsung dengan masyarakat, baik dalam konteks lokal maupun internasional.
Namun, untuk KKM Reguler, pesan utama yang dibawa mahasiswa adalah bagaimana hadir di desa dengan semangat pengabdian dan membawa perubahan yang dapat dirasakan masyarakat.
Dari kampus mereka membawa ilmu. Di tengah masyarakat mereka menemukan persoalan. Melalui kolaborasi dan inovasi, persoalan itu diharapkan dapat diubah menjadi peluang.
Dengan semangat “Dari Kampus ke Desa, Dari Ilmu Menjadi Aksi,” 119 mahasiswa UBM Gorontalo kini siap menjalankan misi pengabdian di 19 desa.
Mereka datang bukan sekadar untuk menjalankan tugas akademik. Mereka datang untuk belajar, mengabdi, berinovasi, dan meninggalkan dampak.