Kampus UBMG — Komitmen Universitas Bina Mandiri Gorontalo (UBMG) dalam membangun pendidikan tinggi yang inklusif terus diperkuat melalui pembelajaran praktik internasional. Dalam rangkaian Japan Fellowship for University Leaders on Disability-Inclusive Higher Education, UBMG mengunjungi Kyoto Job Park, Jepang, Kamis (27/8/2026), untuk mempelajari model transisi mahasiswa penyandang disabilitas dari lingkungan pendidikan menuju dunia kerja.
Kunjungan yang berlangsung mulai pukul 14.20 waktu Jepang tersebut diikuti oleh Kepala Kantor Urusan Internasional UBMG, Dr. Ayu Anastasya Rachman, S.I.P., M.A., dan Ketua Unit Layanan Disabilitas (ULD) UBMG, Dr. Imam Mashudi, S.Pd., M.Pd. Kegiatan menjadi bagian penting dari rangkaian pembelajaran UBMG dalam memahami bagaimana perguruan tinggi dapat mempersiapkan mahasiswa penyandang disabilitas agar memiliki akses dan kesiapan yang lebih baik dalam memasuki dunia kerja.
Kunjungan diawali dengan sambutan dari Kepala Kyoto Job Park dan pemaparan mengenai peran lembaga tersebut dalam membangun jembatan antara pencari kerja, institusi pendidikan, dan dunia usaha. Kyoto Job Park menyediakan berbagai layanan ketenagakerjaan, mulai dari konsultasi karier, informasi peluang kerja, asesmen, pelatihan kesiapan kerja, pencocokan dengan perusahaan, hingga pendampingan setelah seseorang memperoleh pekerjaan.
Model layanan tersebut dijalankan melalui kolaborasi antara Pemerintah Prefektur Kyoto, perusahaan, perguruan tinggi, dan berbagai organisasi pendukung ketenagakerjaan. Pola kolaborasi ini menjadi salah satu pembelajaran penting bagi UBMG dalam melihat bahwa keberhasilan transisi mahasiswa penyandang disabilitas ke dunia kerja membutuhkan ekosistem yang melibatkan berbagai pihak.
Salah satu hal yang menjadi perhatian delegasi UBMG adalah pendekatan Kyoto Job Park yang menempatkan persiapan karier sebagai proses yang dimulai sejak mahasiswa masih berada di bangku kuliah. Mahasiswa penyandang disabilitas dapat memperoleh layanan registrasi, konseling individual, asesmen, seminar kesiapan kerja, pengalaman kerja atau magang, penempatan kerja, hingga pendampingan untuk mempertahankan pekerjaan.
Layanan tersebut juga dirancang fleksibel mengikuti kebutuhan mahasiswa. Konseling dapat dilakukan bersama konselor khusus dan disesuaikan dengan jadwal perkuliahan, termasuk melalui layanan pada malam hari maupun hari Sabtu. Pendekatan ini menunjukkan pentingnya layanan karier yang tidak hanya tersedia, tetapi juga mudah diakses dan responsif terhadap kondisi setiap mahasiswa.
Menariknya, asesmen yang digunakan Kyoto Job Park tidak ditempatkan sebagai alat untuk menentukan apakah seseorang “mampu” atau “tidak mampu” bekerja. Asesmen justru digunakan untuk membantu mahasiswa mengenali kekuatan, tantangan, pola kerja, serta lingkungan kerja yang paling sesuai dengan dirinya.
Hasil asesmen kemudian dapat menjadi dasar bagi mahasiswa dalam menyusun strategi pencarian kerja sekaligus mengomunikasikan kebutuhan dan kondisi yang memungkinkan mereka bekerja secara optimal. Pendekatan ini memberikan perspektif bahwa layanan karier inklusif seharusnya berorientasi pada potensi dan kesiapan individu, bukan pada keterbatasannya.
Pembelajaran lain yang menarik bagi delegasi UBMG adalah praktik magang berbasis proyek. Dalam model tersebut, mahasiswa penyandang disabilitas tidak hanya ditempatkan sebagai peserta magang, tetapi diberi kesempatan untuk mengidentifikasi hambatan di lingkungan kerja, mengusulkan solusi, serta menyampaikan rekomendasi kepada manajemen maupun bagian sumber daya manusia perusahaan.
Pendekatan tersebut menempatkan mahasiswa sebagai individu yang memiliki kemampuan untuk memberikan kontribusi sekaligus ikut menciptakan lingkungan kerja yang lebih aksesibel. Model ini menjadi inspirasi bagi UBMG dalam mengembangkan pengalaman kerja mahasiswa yang lebih bermakna dan berorientasi pada penguatan kompetensi.
Rangkaian kunjungan kemudian dilanjutkan dengan tur fasilitas, pemaparan mengenai berbagai inisiatif perusahaan serta Neurodiversity Kyoto, sesi pertukaran pendapat dan tanya jawab, hingga penutupan dan foto bersama. Neurodiversity Kyoto menjadi salah satu contoh jejaring yang mempertemukan perusahaan, perguruan tinggi, dan organisasi pendukung untuk memperluas kesempatan kerja bagi individu dengan disabilitas perkembangan.
Bagi UBMG, kunjungan ke Kyoto Job Park memberikan perspektif baru bahwa pendidikan inklusif tidak berhenti pada penyediaan akses pembelajaran di dalam kampus. Lebih jauh, perguruan tinggi perlu memastikan mahasiswa penyandang disabilitas memperoleh dukungan yang berkelanjutan hingga mampu membangun kemandirian dan memasuki dunia profesional.
Pembelajaran tersebut selanjutnya menjadi referensi bagi UBMG melalui Unit Layanan Disabilitas untuk mengembangkan layanan transisi karier yang lebih komprehensif, meliputi konseling karier inklusif, asesmen kebutuhan kerja, pelatihan kesiapan kerja, pengembangan program magang, serta penguatan kemitraan dengan dunia usaha dan dunia industri.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya UBMG membangun ekosistem pendidikan tinggi yang memberikan kesempatan setara kepada setiap mahasiswa untuk berkembang, berkarya, dan mempersiapkan masa depan profesionalnya.
Melalui pengalaman internasional di Jepang, UBMG terus memperkuat transformasi menuju kampus yang tidak hanya unggul dalam pendidikan, tetapi juga semakin inklusif, adaptif, dan berorientasi pada pemberdayaan mahasiswa.