Visiting Lecturer UBMG Hadirkan Pakar Filipina, Bahas Strategi Pengentasan ATS dan APS bersama BPMP Gorontalo

17 September 2026 Akademik
Visiting Lecturer UBMG Hadirkan Pakar Filipina, Bahas Strategi Pengentasan ATS dan APS bersama BPMP Gorontalo
Kampus UBMG — Rangkaian Visiting Lecture Universitas Bina Mandiri Gorontalo (UBMG) memasuki hari kedua dengan agenda akademik yang semakin memperluas ruang kolaborasi dan pertukaran pengetahuan. Selain menghadirkan public lecture di sejumlah fakultas, rangkaian kegiatan juga diisi dengan kunjungan Fakultas Ilmu Pendidikan dan Budaya (FIPB) UBMG ke Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Provinsi Gorontalo dalam agenda Simposium Internasional, Kamis, (17/9/2026).
 
 
Kegiatan yang berlangsung di BPMP Provinsi Gorontalo tersebut menghadirkan pakar dari Filipina, Romeo T. Quintos, Jr., Ph.D., sebagai narasumber. Kehadirannya menjadi bagian dari komitmen UBMG dalam menghadirkan perspektif internasional untuk memperkaya diskusi akademik sekaligus mendorong kolaborasi dalam menjawab persoalan pendidikan yang dihadapi daerah.
 
 
Rombongan FIPB UBMG diterima oleh Ketua Unit Kerja Bidang SMA dan Kerja Sama BPMP Provinsi Gorontalo, Bobby A. Gani, S.Si., M.Si., yang mewakili Kepala BPMP Provinsi Gorontalo. Kegiatan turut dihadiri jajaran dan sumber daya manusia di lingkungan BPMP Provinsi Gorontalo.
 
 
Simposium diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, dilanjutkan dengan sambutan dari pihak BPMP serta ucapan selamat datang kepada rombongan UBMG. Selanjutnya, Dekan FIPB UBMG, Dr. Imam Mashudi, S.Pd., M.Pd., menyampaikan sambutan sekaligus menjelaskan konteks pelaksanaan International Week dan Visiting Lecture UBMG yang secara konsisten dilaksanakan sebagai bagian dari penguatan wawasan internasional di lingkungan perguruan tinggi.
 
 
Menurut Imam, kehadiran Romeo T. Quintos, Jr., Ph.D. pada tahun ini memberikan nilai tambah tersendiri karena kepakarannya berkaitan dengan matematika dan metodologi, sekaligus memiliki pengalaman akademik yang relevan dengan isu anak tidak sekolah maupun anak putus sekolah.
 
 
“Program International Week dan Visiting Lecture merupakan agenda yang setiap tahun dilaksanakan UBMG. Tahun ini kami menghadirkan salah satu dosen pakar dari Filipina, Romeo T. Quintos, Jr., Ph.D., yang memiliki kepakaran di bidang matematika dan metodologi. Kehadiran beliau menjadi kesempatan penting untuk memperluas perspektif dan memperkaya diskusi akademik, khususnya terkait persoalan pendidikan,” ujar Dr. Imam.
 
 
Diskusi kemudian berkembang melalui pemaparan Romeo T. Quintos, Jr., Ph.D. mengenai strategi pencegahan dan pengentasan Anak Tidak Sekolah (ATS) dan Anak Putus Sekolah (APS). Materi tersebut mendapat respons aktif dari peserta karena memiliki keterkaitan langsung dengan tantangan pendidikan yang masih dihadapi di berbagai daerah, termasuk Provinsi Gorontalo.
 
 
Dalam forum tersebut, isu ATS dan APS menjadi salah satu pembahasan utama. Pihak BPMP Provinsi Gorontalo menjelaskan bahwa penanganan ATS/APS merupakan bagian dari program prioritas Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia yang pelaksanaannya di daerah membutuhkan dukungan serta sinergi berbagai pemangku kepentingan.
 
 
Pembahasan juga dikaitkan dengan kebijakan Wajib Belajar 13 Tahun, termasuk upaya pencegahan dan pengentasan ATS/APS. Dari diskusi tersebut terungkap pentingnya penguatan basis data sebagai fondasi dalam menentukan strategi intervensi yang tepat.
 
 
“Dari pihak BPMP disampaikan bahwa ATS dan APS menjadi salah satu program prioritas. Di Gorontalo terdapat sekitar 25.500 anak yang masuk dalam kategori tidak sekolah atau putus sekolah berdasarkan informasi yang disampaikan dalam forum. Namun, baru sekitar 10 ribuan yang berhasil teridentifikasi secara lebih rinci. Artinya, masih terdapat tantangan dalam memastikan data dan penyebab ATS/APS dapat terpetakan secara komprehensif,” jelas Imam.
 
 
Menurutnya, kondisi tersebut membuka ruang diskusi yang lebih luas dengan menghadirkan pengalaman internasional. Romeo T. Quintos, Jr., Ph.D. diketahui memiliki pengalaman akademik dan penelitian yang juga menyinggung persoalan ATS/APS di Filipina. Pengalaman tersebut kemudian menjadi salah satu bahan pertukaran pengetahuan dalam simposium.
 
 
“Diskusi berkembang pada bagaimana teknik maupun metode yang telah diterapkan di negara lain dapat menjadi referensi bagi penguatan kebijakan pencegahan dan pengentasan ATS/APS di Gorontalo. Salah satu hal yang menjadi perhatian bersama adalah data. Ketika data dapat diperoleh secara valid dan komprehensif, maka penanganannya dapat dilakukan dengan lebih tepat sasaran, efektif, dan efisien,” tutur Imam.
 
 
Selain persoalan data, simposium juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor. Penanganan ATS/APS dinilai tidak dapat dilakukan oleh satu institusi secara sendiri-sendiri, melainkan membutuhkan komunikasi, koordinasi, serta sinergi antara pemerintah, satuan pendidikan, masyarakat, dan perguruan tinggi.
 
 
Dalam konteks tersebut, UBMG memiliki rekam jejak kerja sama dengan BPMP Provinsi Gorontalo. Kedua institusi telah menjalin Memorandum of Understanding (MoU) sejak 2025, salah satunya diarahkan pada penguatan kontribusi akademik dalam isu pendidikan, termasuk pencegahan dan pengentasan ATS/APS.
 
 
“Sebagai tindak lanjut MoU yang dilakukan pada 2025, UBMG telah menghadirkan dosen asing untuk berdiskusi mengenai pendidikan yang bermutu. Tahun ini pembahasannya kami kerucutkan lebih jauh pada persoalan ATS dan APS. Di sisi lain, UBMG juga telah melakukan kolaborasi melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Kecamatan Bulango Selatan, dengan sejumlah desa menjadi lokasi field project dalam upaya pengentasan ATS,” ungkapnya.
 
 
Kolaborasi UBMG dan BPMP juga telah berkembang pada ranah publikasi ilmiah internasional. Sebelumnya, kedua pihak terlibat dalam penulisan artikel ilmiah yang diterbitkan dalam jurnal internasional melalui kolaborasi dengan Bataan Peninsula State University (BPSU). Artikel tersebut mengangkat strategi pengentasan ATS dan APS dengan melibatkan Dr. Imam Mashudi, S.Pd., M.Pd. dan Bobby A. Gani, S.Si., M.Si. sebagai penulis.
 
 
Bagi UBMG, rangkaian kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa internasionalisasi perguruan tinggi tidak berhenti pada kegiatan pertukaran dosen atau public lecture, tetapi diarahkan untuk menghasilkan pertukaran pengetahuan, penguatan jejaring kelembagaan, penelitian, publikasi, hingga kontribusi nyata terhadap persoalan pendidikan di daerah.
 
 
“Ke depan, kami sepakat untuk terus memperkuat kolaborasi. Harapannya, kontribusi bersama ini dapat mendukung upaya pemerintah dalam menghadirkan pendidikan yang bermutu dan memastikan semakin banyak anak mendapatkan akses pendidikan yang layak. Pada akhirnya, peningkatan kualitas sumber daya manusia dan pencapaian visi Generasi Emas 2045 membutuhkan kerja bersama dari berbagai pihak,” kata Dr. Imam.
 
 
Ia menegaskan, FIPB UBMG berkomitmen melanjutkan kerja sama yang telah dibangun bersama BPMP Provinsi Gorontalo. Kolaborasi tersebut akan terus diarahkan pada kontribusi akademik dan ilmiah yang dapat mendukung kebutuhan daerah, khususnya dalam pencegahan dan pengentasan ATS/APS.
 
 
“Kami dari FIPB tentunya berkomitmen untuk melanjutkan kerja sama yang telah dibangun antara UBMG dan BPMP. Ini merupakan kebutuhan daerah, sehingga kami berupaya memberikan kontribusi secara akademik dan ilmiah untuk membantu pemerintah daerah dalam pencegahan maupun pengentasan ATS dan APS,” ujarnya.
 
 
Di sisi lain, pelaksanaan Visiting Lecture juga menjadi bagian dari strategi UBMG memperluas pengalaman internasional sivitas akademika. Melalui kehadiran akademisi dari luar negeri, mahasiswa dan dosen tidak hanya memperoleh wawasan dari perspektif Indonesia, tetapi juga mendapatkan kesempatan untuk memahami praktik, pengalaman, dan pendekatan pendidikan dari negara lain.
 
 
“Harapan kami, kolaborasi internasional melalui Visiting Lecture dapat terus berjalan dan semakin luas. Dengan adanya sharing pengalaman dari akademisi internasional, kita mendapatkan inspirasi dan perspektif baru yang dapat dikembangkan sesuai dengan kebutuhan Indonesia, khususnya Gorontalo,” pungkas Imam.
 
 
Sementara itu, pada hari kedua rangkaian Visiting Lecture, UBMG juga menggelar public lecture secara paralel di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Fakultas Sains, Teknologi dan Ilmu Kesehatan (FSTIK), serta Fakultas Pemerintahan dan Sektor Publik (FPSP).
 
 
Kegiatan tersebut tidak hanya diikuti mahasiswa UBMG, tetapi juga melibatkan mahasiswa dari perguruan tinggi lain serta siswa-siswi dari sejumlah sekolah di Gorontalo. Keterlibatan peserta lintas institusi ini memperluas ruang interaksi akademik sekaligus memperlihatkan bahwa program internasionalisasi UBMG diarahkan untuk memberikan manfaat yang lebih luas bagi ekosistem pendidikan di Gorontalo.
 
 
Melalui rangkaian Visiting Lecture dan Simposium Internasional tersebut, UBMG terus membangun jembatan kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, sekolah, dan mitra internasional. Langkah ini menjadi bagian dari upaya UBMG memperkuat peran perguruan tinggi sebagai ruang pertukaran pengetahuan sekaligus mitra strategis dalam menjawab berbagai tantangan pendidikan di tingkat daerah maupun global. (Hms)
Bagikan artikel ini:
Facebook WhatsApp
)