Kepala LLDikti Wilayah XVI Apresiasi Budaya Mutu dan Transformasi Akademik UBM Gorontalo, Dorong Paradigma Outcome Oriented

26 Februari 2026 Kegiatan
Kepala LLDikti Wilayah XVI Apresiasi Budaya Mutu dan Transformasi Akademik UBM Gorontalo, Dorong Paradigma Outcome Oriented

Kampus UBMG – Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah XVI, Munawir S. Razak, MA, menjadi salah satu narasumber dalam kegiatan Rapat Kerja (Raker) Yayasan Bina Mandiri Gorontalo (YBMG) Tahun 2026, yang dilaksanakan pada Selasa (23/12/2025) di Aztin Convention Center Kampus Universitas Bina Mandiri (UBM) Gorontalo.

Pada momen tersebut, Munawir S. Razak memaparkan materi bertajuk “Transformasi Tata Kelola Akademik melalui Permendiktisaintek Nomor 39 Tahun 2025”, yang menekankan perubahan paradigma pengelolaan perguruan tinggi menuju tata kelola yang lebih adaptif, otonom, dan berorientasi pada hasil (outcome oriented).

Dalam materinya, Munawir S. Razak mengapresiasi semangat sivitas akademika UBM Gorontalo. Ia menilai mulai dari unsur pimpinan hingga staf, UBM Gorontalo memiliki frekuensi dan semangat yang sama dalam mengembangkan layanan pendidikan tinggi yang berkualitas.

“Tidak semua perguruan tinggi memiliki budaya kerja yang terbangun dengan baik dan berkesinambungan, melalui pelaksanaan Rapat Kerja Tahunan dan dokumen mutu yang rutin dilakukan oleh Kampus UBM Gorontalo,” ungkap Munawir S. Razak.

Ia juga menyambut baik penguatan tata kelola internal UBM Gorontalo, termasuk pengelolaan Sumber Daya Manusia (SDM) berbasis sistem merit dan kinerja, sebagai bagian dari penguatan Sumber Daya Manusia (SDM) dalam ekosistem pendidikan tinggi.

Munawir S. Razak, MA juga menjelaskan secara lengkap, bahwa Permendiktisaintek Nomor 39 Tahun 2025 merupakan penyempurnaan dari regulasi sebelumnya, termasuk penyesuaian terhadap regulasi sebelumnya. Salah satu poin penting dalam regulasi baru ini adalah kembalinya Akreditasi Unggul, yang tentunya menuntut perencanaan yang matang, sistematis, dan berkelanjutan dari Perguruan Tinggi.

Ia menambahkan bahwa setiap perguruan tinggi memiliki Indikator Kinerja Utama (IKU) yang terdiri dari IKU wajib dan IKU pilihan, dengan total delapan IKU. Pemerintah, lanjutnya, tidak membedakan antara Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS).

“Terkait capaian IKU, LLDikti Wilayah XVI akan mengajak UBM Gorontalo bersama sembilan PTS lainnya ke Jakarta untuk bertemu langsung dengan Menteri Diktisaintek. Ini adalah bukti bahwa pemerintah memberikan ruang yang sama bagi PTN dan PTS,” jelasnya.

Secara nasional, terdapat enam IKU wajib dan lima IKU pilihan, yang menjadi acuan kinerja perguruan tinggi. Dalam konteks ini, UBM Gorontalo didorong untuk fokus pada semangat Transformasi Pendidikan Tinggi 2.0.

Lebih lanjut, Munawir menekankan adanya perubahan filosofi mendasar dalam Permendiktisaintek Nomor 39 Tahun 2025. Perguruan Tinggi tidak lagi sekadar berorientasi pada pemenuhan standar atau kepatuhan regulasi (compliance), tetapi harus fokus pada capaian hasil pembelajaran, relevansi lulusan, serta kontribusi nyata penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

“Cara berpikir kita harus melampaui sekadar memenuhi aturan. Yang utama adalah outcome, lulusan yang berdaya saing, riset yang berdampak, dan pengabdian yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” tegasnya.

Ia juga menekankan pentingnya peningkatan keterdampakan hasil penelitian dan pengabdian, baik dari sisi kualitas maupun keberlanjutan dampaknya.

Munawir menegaskan, Pemerintah saat ini memberikan ruang otonomi yang luas kepada PTS, termasuk dalam aspek akademik dan pengelolaan institusi. Namun, otonomi tersebut harus dijalankan dalam kerangka tanggung jawab dan integritas yang kuat, termasuk dalam pelaksanaan Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL).

Selain itu, perguruan tinggi didorong untuk lebih inovatif dalam mencari sumber pendanaan alternatif, seperti menjalin kerja sama dengan sektor industri maupun membuka lini badan usaha kampus.

“Sekitar 20 persen pendanaan kampus idealnya dapat bersumber dari aktivitas bisnis dan kerja sama strategis,” ujarnya. 

Munawir juga menekankan bahwa Tridharma Perguruan Tinggi,  pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, harus dikelola secara terintegrasi dan saling menguatkan. Mata kuliah perlu dirancang agar mendorong mahasiswa terlibat langsung dalam proyek nyata dan terjun langsung di masyarakat.

Ia mencontohkan salah satu PTS di Sidrap yang memiliki Program Studi Kuliner, satu-satunya di Indonesia, sebagai bentuk inovasi berbasis kebutuhan dan keunggulan lokal.

Pengabdian kepada masyarakat juga harus berbasis riset, diawali dengan asesmen kebutuhan, mengacu pada best practice, serta menghasilkan luaran yang berdampak dan dipublikasikan secara luas.

Munawir S. Razak menutup pemaparannya dengan menegaskan pentingnya keselarasan antara pimpinan dan staf dalam mewujudkan Tridharma yang terintegrasi. Dengan demikian, mahasiswa akan memperoleh peningkatan kompetensi dan soft skill. Bagi dosen juga mendukung produktivitas dalam riset dan pengabdian, serta perguruan tinggi semakin berdampak bagi masyarakat dan capaian IKU meningkat.

“Paradigma baru kita adalah outcome oriented. Optimalkan otonomi kampus untuk berinovasi dan integrasikan pendidikan, penelitian, serta pengabdian,” tekan Munawir.

Ia berharap, UBM Gorontalo mampu menghadirkan hasil nyata berupa lulusan berkualitas dan berdaya saing, riset yang berdampak, pengabdian yang terukur, serta ekosistem kampus yang saling terintegrasi.

“Yang kita layani adalah masyarakat. Karena itu, lulusan, riset, dan pengabdian yang dihasilkan harus yang terbaik dan benar-benar dirasakan manfaatnya,” tutup Munawir S. Razak. (hms)

Bagikan artikel ini:
Facebook WhatsApp