Kampus UBMG – Universitas Bina Mandiri Gorontalo (UBMG) terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas proses pembelajaran dan penguatan budaya akademik di lingkungan perguruan tinggi.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui Workshop Penyusunan Rencana Pembelajaran Semester (RPS) berbasis Outcome-Based Education (OBE) yang digagas oleh Fakultas Pemerintahan dan Sektor Publik (FPSP). dan diikuti oleh seluruh dosen UBMG secara daring melalui Zoom Meeting, Sabtu (7/3/2026).
Kegiatan ini menjadi bagian penting dari upaya penguatan sistem pembelajaran yang terencana, terukur, dan berorientasi pada capaian kompetensi mahasiswa. Melalui pendekatan OBE, setiap proses pembelajaran dirancang agar mampu menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan akademik, profesional, serta keterampilan berpikir kritis yang relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan kebutuhan dunia kerja.
Plt. Wakil Rektor I UBMG, Rizal, M.Si mengatakan bahwa penyusunan RPS merupakan fondasi utama dalam pelaksanaan pembelajaran di perguruan tinggi. Oleh karena itu, peningkatan kapasitas dosen dalam merancang RPS yang sistematis dan berbasis capaian pembelajaran menjadi sangat penting.
“Workshop ini sangat baik dan strategis untuk memperkuat kompetensi dosen dalam menyusun Rencana Pembelajaran Semester yang berkualitas. RPS bukan sekadar dokumen administratif, tetapi merupakan peta jalan proses pembelajaran yang akan dilaksanakan oleh dosen di dalam kelas,” ujar Plt Warek I Rizal.
Ia juga menjelaskan bahwa pemanfaatan teknologi digital, termasuk Artificial Intelligence (AI), dapat menjadi instrumen pendukung dalam mempercepat proses penyusunan dokumen akademik, selama tetap dilakukan verifikasi dan penyesuaian secara akademik oleh dosen.
“Dengan adanya asistensi teknologi AI, penyusunan RPS dapat menjadi lebih efektif dan sistematis. Namun demikian, dosen tetap perlu melakukan verifikasi akademik dan penyesuaian sesuai dengan karakteristik mata kuliah dan kebutuhan pembelajaran di masing-masing Program Studi,” jelasnya.
Lebih lanjut, Rizal menambahkan bahwa RPS yang disusun dengan baik akan memberikan arah yang jelas bagi dosen dalam menyampaikan materi perkuliahan, sekaligus memastikan mahasiswa memperoleh pengalaman belajar yang terstruktur.
“Melalui RPS yang terencana dengan baik, materi pembelajaran yang diberikan kepada mahasiswa akan selaras dengan capaian pembelajaran yang telah ditetapkan. Dengan demikian, mahasiswa dapat memperoleh output pembelajaran yang sesuai dengan kompetensi yang diharapkan dari setiap mata kuliah,” tambahnya.
Workshop ini menghadirkan Kepala Badan Penjaminan Mutu dan Akreditasi (BPMA) UBMG, Dr. Ikram, M.Si sebagai narasumber utama, yang memberikan pemaparan mendalam terkait konsep penyusunan RPS berbasis OBE serta integrasinya dengan sistem penjaminan mutu akademik di perguruan tinggi.
Dalam materinya, Dr. Ikram menekankan bahwa penyusunan RPS harus didasarkan pada keterkaitan yang jelas antara Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL), Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK), serta Sub-CPMK, sehingga proses pembelajaran dapat dirancang secara sistematis dan berorientasi pada hasil pembelajaran yang terukur.
“RPS harus dirancang untuk mendukung capaian pembelajaran lulusan. Oleh karena itu, setiap mata kuliah perlu memiliki keterkaitan yang jelas dengan CPL, CPMK, hingga sub-CPMK, sehingga pembelajaran yang dilaksanakan benar-benar berkontribusi pada pencapaian kompetensi lulusan,” jelas Dr. Ikram.
Ia juga menekankan pentingnya penyusunan rubrik penilaian sebagai instrumen evaluasi pembelajaran yang terstruktur dan objektif.
“Dalam sistem pembelajaran berbasis OBE, evaluasi pembelajaran harus menggunakan rubrik penilaian yang jelas dan terukur. Rubrik ini akan membantu dosen menilai capaian kompetensi mahasiswa secara lebih objektif dan sistematis,” tambahnya.
Selain itu, Dr. Ikram menjelaskan bahwa pemanfaatan AI dapat membantu dosen dalam merancang draft awal RPS, termasuk dalam penyusunan indikator pembelajaran dan rubrik evaluasi.
“AI dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu dalam asistensi penyusunan RPS, mulai dari merumuskan CPMK hingga menyusun rubrik penilaian. Namun demikian, dosen tetap harus melakukan validasi dan verifikasi manual agar dokumen yang dihasilkan tetap sesuai dengan standar akademik dan kebutuhan pembelajaran,” terang Dr. Ikram.
Dalam konteks metodologi pembelajaran, Dr. Ikram juga menekankan pentingnya penerapan pendekatan andragogi dalam proses perkuliahan di perguruan tinggi.
“Dosen tidak hanya berperan sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai fasilitator pembelajaran. Dengan pendekatan andragogi, dosen diharapkan mampu menstimulasi mahasiswa untuk aktif, berpikir kritis, serta mampu mengembangkan pengetahuan secara mandiri,” ujar Dr. Ikram.
Ia juga mendorong agar proses pembelajaran dirancang dengan pendekatan problem solving dan project-based learning, sehingga mahasiswa terbiasa menghadapi persoalan nyata dan mampu menghasilkan solusi yang inovatif.
“Mahasiswa perlu dilatih untuk mampu mengidentifikasi permasalahan, menganalisisnya, dan menghasilkan solusi melalui berbagai pendekatan pembelajaran seperti studi kasus maupun project-based learning,” jelasnya.
Khusus untuk program pendidikan vokasi, Dr. Ikram menekankan bahwa proporsi praktik harus lebih dominan dibandingkan teori agar mahasiswa memiliki keterampilan aplikatif yang kuat.
“Untuk program vokasi, proses pembelajaran harus lebih menitikberatkan pada praktik. Mahasiswa perlu lebih banyak melakukan simulasi, praktik lapangan, maupun proyek aplikatif agar kompetensinya benar-benar siap digunakan di dunia kerja,” ungkapnya.
Sebagai bagian dari workshop, para dosen juga mengikuti sesi praktik penyusunan RPS, dengan memanfaatkan pemetaan CPL dan mata kuliah, format RPS dari Prodi, serta penggunaan prompt berbasis AI untuk membantu penyusunan dokumen pembelajaran secara sistematis.
Selain itu, Dr. Ikram juga mendorong agar hasil penelitian dosen dapat diintegrasikan ke dalam RPS, sehingga materi perkuliahan selalu diperbarui berdasarkan perkembangan ilmu pengetahuan.
“Integrasi hasil riset dosen ke dalam RPS sangat penting agar proses pembelajaran di kelas tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga berbasis pada temuan ilmiah yang aktual,” ungkap Dr. Ikram.
Kegiatan workshop kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi interaktif yang diikuti oleh para dosen dari berbagai fakultas di lingkungan UBMG. Dalam sesi ini, sejumlah dosen menyampaikan berbagai pertanyaan serta berdiskusi terkait implementasi penyusunan RPS berbasis OBE di masing-masing program studi.
Sementara itu, Dekan Fakultas Pemerintahan dan Sektor Publik (FPSP) UBMG, Ismail Tahir, Ph.D berharap workshop ini dapat mempercepat penyusunan perangkat pembelajaran yang lebih berkualitas.
“Kami berharap seluruh dosen pengampu mata kuliah dapat menyelesaikan penyusunan RPS dalam waktu maksimal satu minggu. Dengan adanya workshop ini, seluruh dosen diharapkan dapat menghasilkan RPS yang lengkap, sistematis, dan sesuai dengan pedoman akademik yang berlaku di UBMG,” ujar Dekan Ismail.
Ia juga menambahkan bahwa penyusunan RPS yang berkualitas akan memberikan dampak positif terhadap peningkatan mutu pembelajaran dan penguatan sistem penjaminan mutu akademik di lingkungan UBMG.
“RPS yang disusun secara komprehensif akan menjadi pedoman penting dalam pelaksanaan perkuliahan, sehingga proses pembelajaran dapat berjalan lebih terarah, terukur, dan berorientasi pada pencapaian kompetensi mahasiswa,” tambah Dekan Ismail.
Melalui kegiatan ini, Kampus UBMG kembali menegaskan komitmennya dalam membangun budaya dan mutu akademik yang kuat, dan adaptif.
"Workshop ini juga menjadi bagian dari langkah strategis UBMG dalam meningkatkan mutu pembelajaran, memperkuat sistem penjaminan mutu akademik, serta menghasilkan lulusan yang Unggul, Berkarakter, Mengglobal, dan siap bersaing di tingkat nasional maupun global," tutup Dekan Ismail. (hms)