Kampus UBMG —
Komitmen Universitas Bina Mandiri Gorontalo (UBMG) dalam memperkuat pendidikan
tinggi yang inklusif terus diwujudkan melalui pembelajaran internasional.
Setelah mengunjungi Amakubo Campus, delegasi UBMG melanjutkan kunjungan ke Kasuga Campus, National University
Corporation Tsukuba University of Technology (NTUT), Jepang, Selasa
(25/8/2026) pukul 14.00 waktu Jepang.
Kunjungan
tersebut menjadi bagian penting dari agenda pembelajaran internasional UBMG
untuk memperdalam wawasan mengenai penyelenggaraan pendidikan tinggi bagi
mahasiswa penyandang disabilitas, khususnya mahasiswa tunanetra dan low
vision. Kegiatan ini sekaligus menjadi ruang bagi UBMG untuk mempelajari
secara langsung bagaimana institusi pendidikan tinggi membangun lingkungan
akademik yang aksesibel dan mendukung kemandirian mahasiswa.
Delegasi
UBMG terdiri atas Dr. Ayu Anastasya
Rachman, S.I.P., M.A., selaku Kepala Kantor Urusan Internasional (KUI)
UBMG, dan Dr. Imam Mashudi, S.Pd.,
M.Pd., selaku Ketua Unit Layanan Disabilitas (ULD) UBMG.
Kasuga
Campus merupakan salah satu kampus NTUT yang secara khusus menyelenggarakan
pendidikan bagi mahasiswa dengan hambatan penglihatan, termasuk tunanetra dan low
vision. Dalam kunjungan tersebut, delegasi UBMG memperoleh pemaparan dari Prof. Miyagi mengenai pendekatan
pembelajaran, dukungan akademik, serta strategi menciptakan lingkungan kampus
yang aksesibel bagi mahasiswa dengan beragam kebutuhan visual.
Pemaparan
tersebut memberikan perspektif penting bagi UBMG bahwa pendidikan inklusif
tidak sekadar berkaitan dengan penyediaan fasilitas fisik. Aksesibilitas juga
perlu dibangun melalui desain
pembelajaran, teknologi pendukung, bahan ajar yang dapat diakses, serta sistem
pendampingan yang menempatkan mahasiswa sebagai subjek utama dalam
proses pendidikan.
Salah
satu sesi yang menarik perhatian delegasi adalah demonstrasi yang dilakukan
oleh dua mahasiswa penyandang disabilitas. Keduanya memperagakan pengalaman
belajar berdasarkan hambatan yang dihadapi sekaligus menunjukkan strategi dan
teknologi yang digunakan untuk mendukung kemandirian dalam menjalani aktivitas
akademik.
Demonstrasi
tersebut memberikan pengalaman langsung kepada delegasi UBMG mengenai bagaimana
teknologi dan layanan pendukung dapat menjadi bagian integral dalam menciptakan
proses pembelajaran yang lebih setara.
Bagi
UBMG, pengalaman tersebut menjadi pembelajaran bahwa pengembangan layanan
disabilitas perlu berangkat dari kebutuhan nyata mahasiswa. Dengan demikian,
setiap fasilitas, teknologi, maupun bentuk pendampingan yang disediakan dapat
benar-benar mendukung mahasiswa dalam belajar, beraktivitas, dan mengembangkan
potensinya secara mandiri.
Usai
sesi pemaparan dan demonstrasi, delegasi UBMG melanjutkan observasi ke sejumlah
fasilitas di Kasuga Campus, di antaranya perpustakaan, laboratorium, dan ruang
gimnasium.
Observasi
tersebut memberikan kesempatan kepada delegasi untuk melihat secara langsung
penerapan prinsip aksesibilitas dalam berbagai ruang dan aktivitas kampus,
mulai dari lingkungan belajar, penggunaan peralatan, mobilitas mahasiswa,
hingga fasilitas yang mendukung pengembangan minat dan bakat.
Pengalaman
tersebut memperlihatkan bahwa lingkungan pendidikan yang inklusif membutuhkan
ekosistem yang saling terhubung. Dukungan terhadap mahasiswa penyandang
disabilitas tidak hanya berada di ruang kelas, tetapi juga perlu hadir dalam
berbagai aspek kehidupan kampus.
Kegiatan
kemudian ditutup dengan sesi tanya jawab antara delegasi UBMG dan pihak NTUT.
Diskusi menjadi ruang pertukaran pengalaman untuk menggali lebih jauh strategi
penyelenggaraan pendidikan inklusif, pemanfaatan teknologi aksesibilitas, serta
pengembangan layanan yang mampu menjawab kebutuhan mahasiswa.
Kunjungan
ke Kasuga Campus menjadi pengalaman berharga bagi UBMG dalam memperkuat
pengembangan Unit Layanan Disabilitas
(ULD) dan meningkatkan kualitas layanan pendidikan bagi mahasiswa
penyandang disabilitas.
Pembelajaran
dari NTUT diharapkan dapat menjadi referensi bagi UBMG dalam mengembangkan
fasilitas, teknologi, desain pembelajaran, dan layanan pendampingan yang
semakin aksesibel. Lebih dari itu, pengalaman internasional ini memperkuat
komitmen UBMG untuk membangun budaya akademik yang menghargai keberagaman dan
memberikan ruang yang setara bagi setiap mahasiswa untuk berkembang.
Melalui
agenda pembelajaran internasional ini, UBMG terus menempatkan
internasionalisasi bukan hanya sebagai upaya memperluas jejaring global, tetapi
juga sebagai sarana belajar dari
praktik terbaik dunia untuk meningkatkan mutu layanan pendidikan di kampus.
Langkah
tersebut menjadi bagian dari komitmen UBMG dalam mewujudkan visi “Unggul, Berkarakter dan Mengglobal”,
dengan menghadirkan lingkungan pendidikan tinggi yang semakin inklusif,
aksesibel, dan berorientasi pada potensi setiap mahasiswa.