UBMG Perkuat Komitmen Pendidikan Inklusif melalui Kunjungan Akademik ke Jepang

25 Agustus 2026 Akademik
UBMG Perkuat Komitmen Pendidikan Inklusif melalui Kunjungan Akademik ke Jepang

Kampus UBMG — Universitas Bina Mandiri Gorontalo (UBMG) terus memperkuat komitmennya dalam menghadirkan pendidikan tinggi yang inklusif, aksesibel, dan berkeadilan bagi seluruh mahasiswa. Komitmen tersebut diwujudkan melalui partisipasi UBMG dalam rangkaian kunjungan akademik dan pembelajaran di Jepang pada 24 Agustus 2026, dengan mengunjungi The Nippon Foundation dan The Open University of Japan.


Kunjungan ini menjadi bagian penting dari upaya UBMG memperluas wawasan dan jejaring internasional, khususnya dalam pengembangan kebijakan serta layanan pendidikan tinggi bagi mahasiswa penyandang disabilitas. UBMG diwakili oleh Dr. Ayu Anastasya Rachman, S.I.P., M.A., selaku Kepala Kantor Urusan Internasional (KUI) UBMG, dan Dr. Imam Mashudi, S.Pd., M.Pd., selaku Ketua Unit Layanan Disabilitas (ULD) UBMG. Keduanya bergabung bersama delegasi Indonesia untuk mempelajari secara langsung pengalaman, kebijakan, serta praktik baik penyelenggaraan layanan disabilitas di lingkungan pendidikan tinggi Jepang.


Rangkaian kunjungan diawali di The Nippon Foundation, di mana delegasi Indonesia diterima oleh jajaran pimpinan dan penanggung jawab program yang berkaitan dengan Asian and Pacific Disability Forum atau AHDC The Nippon Foundation. Pertemuan diawali dengan sambutan dari pihak tuan rumah, perkenalan delegasi, pemaparan mengenai profil dan perjalanan The Nippon Foundation, serta sesi dokumentasi bersama.


Dalam sesi tersebut, delegasi memperoleh gambaran mengenai peran The Nippon Foundation sebagai organisasi swasta di Jepang yang mengembangkan berbagai program sosial melalui dukungan pendanaan, termasuk program yang berorientasi pada peningkatan aksesibilitas dan pelayanan bagi penyandang disabilitas.


Pembelajaran semakin mendalam ketika Mr. Chiba dari AHDC The Nippon Foundation memberikan orientasi mengenai pengembangan layanan disabilitas di perguruan tinggi. Ia menyoroti tiga tantangan penting yang perlu menjadi perhatian institusi pendidikan tinggi, yakni ketersediaan pedoman yang jelas, penguatan pola pikir dan budaya inklusif, serta kesiapan sumber daya manusia dalam memberikan layanan yang responsif terhadap kebutuhan mahasiswa penyandang disabilitas.


Pengalaman Jepang juga memperlihatkan bahwa pembangunan pendidikan inklusif membutuhkan kebijakan yang berbasis data dan dapat diterapkan secara terukur. Salah satu praktik baik diperkenalkan melalui peran Japan Student Services Organization (JASSO) dalam menyusun kajian berbasis statistik sekaligus mengembangkan pedoman yang mampu mengakomodasi beragam hambatan dan kebutuhan penyandang disabilitas.


Selain itu, delegasi mendapatkan wawasan mengenai praktik yang diterapkan Kyoto University melalui Disability Resource Center (DRS). Institusi tersebut dikenal mengembangkan pedoman layanan disabilitas yang menjadi salah satu rujukan bagi perguruan tinggi lainnya di Jepang.

Salah satu pendekatan yang menarik perhatian delegasi adalah penggunaan sistem checklist dalam memastikan kesiapan layanan. Pendekatan sederhana namun terukur tersebut dapat membantu perguruan tinggi memantau berbagai aspek layanan, mulai dari dukungan akademik hingga evaluasi setelah program dilaksanakan. Pengelolaan relawan juga dilakukan secara resmi sehingga dukungan kepada mahasiswa penyandang disabilitas dapat berjalan lebih terarah dan profesional.


Bagi UBMG, berbagai praktik tersebut memberikan perspektif baru bahwa pendidikan inklusif tidak hanya berkaitan dengan penyediaan fasilitas fisik, tetapi juga menyangkut kesiapan regulasi, sistem layanan, sumber daya manusia, budaya akademik, hingga mekanisme evaluasi yang berkelanjutan.


Rangkaian kunjungan kemudian dilanjutkan ke The Open University of Japan. Delegasi diterima oleh Rektor The Open University of Japan dalam suasana akademik yang hangat. Pada kesempatan tersebut, dua profesor dari institusi tersebut berbagi pengalaman mengenai penyelenggaraan pendidikan dan dukungan akademik bagi mahasiswa penyandang disabilitas.


Pertukaran pengalaman tersebut menjadi ruang pembelajaran yang strategis bagi UBMG dalam memperkuat pengembangan ULD sebagai bagian penting dari ekosistem pendidikan tinggi yang inklusif. Pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman institusi pendidikan tinggi di Jepang diharapkan dapat menjadi referensi dalam mengembangkan layanan yang semakin responsif terhadap keberagaman kebutuhan mahasiswa.


Kepala KUI UBMG, Dr. Ayu Anastasya Rachman, S.I.P., M.A., bersama Ketua ULD UBMG, Dr. Imam Mashudi, S.Pd., M.Pd., menjadi bagian dari langkah UBMG untuk membawa perspektif global ke dalam penguatan layanan pendidikan di tingkat institusi. Keterlibatan tersebut sekaligus mempertegas arah UBMG untuk terus membuka ruang kolaborasi dan pembelajaran internasional dalam mendukung peningkatan mutu perguruan tinggi.


Kunjungan akademik ke Jepang ini diharapkan tidak berhenti sebagai pengalaman pembelajaran, tetapi dapat diterjemahkan menjadi penguatan kebijakan dan praktik nyata di lingkungan UBMG. Mulai dari penyusunan pedoman layanan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pengembangan sistem pendampingan, hingga penguatan budaya akademik yang menghargai keberagaman.


Melalui langkah tersebut, UBMG terus menegaskan komitmennya untuk membangun kampus yang tidak hanya berorientasi pada kualitas akademik, tetapi juga memastikan setiap mahasiswa memperoleh kesempatan belajar, berkembang, dan meraih prestasi tanpa hambatan diskriminatif.


Pengalaman internasional ini sekaligus memperkuat visi UBMG untuk terus terhubung dengan praktik pendidikan global, beradaptasi terhadap kebutuhan zaman, dan menghadirkan pendidikan tinggi yang inklusif serta berdampak bagi masyarakat. Dengan memperluas jejaring dan belajar dari praktik terbaik dunia, UBMG berkomitmen menjadikan inklusivitas sebagai bagian integral dari perjalanan menuju perguruan tinggi yang unggul, berkarakter dan mengglobal.

Bagikan artikel ini:
Facebook WhatsApp
)