Kampus
UBMG — Universitas Bina Mandiri
Gorontalo (UBMG) terus memperkuat komitmennya dalam membangun ekosistem
pendidikan tinggi yang inklusif, aksesibel, dan memberikan kesempatan belajar
yang setara bagi seluruh mahasiswa. Komitmen tersebut diwujudkan melalui kunjungan
pembelajaran internasional ke National
University Corporation Tsukuba University of Technology (NTUT), Jepang,
Selasa (25/8/2026).
Kunjungan
yang dimulai pukul 09.30 waktu Jepang tersebut menjadi momentum strategis bagi
UBMG untuk memperluas wawasan sekaligus mempelajari praktik penyelenggaraan
pendidikan tinggi yang secara khusus dirancang untuk mendukung mahasiswa
penyandang disabilitas.
Delegasi
UBMG terdiri atas Dr. Ayu Anastasya
Rachman, S.I.P., M.A., selaku Kepala Kantor Urusan Internasional (KUI)
UBMG, dan Dr. Imam Mashudi, S.Pd.,
M.Pd., selaku Ketua Unit Layanan Disabilitas (ULD) UBMG. Delegasi
diterima oleh perwakilan NTUT dan mengikuti rangkaian kegiatan berupa pemaparan
institusi, observasi lingkungan pembelajaran, pengenalan teknologi aksesibilitas,
serta diskusi mengenai pengembangan layanan pendidikan bagi mahasiswa
penyandang disabilitas.
NTUT
merupakan perguruan tinggi nasional di Jepang yang memiliki kekhususan dalam
penyelenggaraan pendidikan bagi mahasiswa tuli dan/atau hard of hearing,
serta mahasiswa tunanetra dan/atau low vision. Institusi ini didirikan
pada 1987 sebagai Tsukuba College of Technology dan kemudian berkembang menjadi
National University Corporation Tsukuba University of Technology pada 2005.
NTUT juga mulai menyelenggarakan pendidikan pascasarjana di bidang teknologi
dan sains sejak 2010.
Dalam
pemaparan yang disampaikan Ms. Hagiwara, delegasi UBMG memperoleh gambaran
mengenai visi NTUT dalam menghasilkan tenaga profesional dengan kompetensi
teknis dan vokasional yang kuat, sekaligus membentuk lulusan yang mandiri dan
mampu berkontribusi di tengah masyarakat.
NTUT
mengelola dua kampus dengan karakteristik layanan yang disesuaikan dengan
kebutuhan mahasiswa. Amakubo Campus
diperuntukkan bagi mahasiswa tuli dan hard of hearing, sedangkan Kasuga Campus melayani mahasiswa
tunanetra dan low vision.
Di
Amakubo Campus, mahasiswa dapat mengikuti pendidikan pada bidang teknologi
industri, termasuk informasi industri dan desain sintetis. Sementara Kasuga
Campus menyediakan pendidikan di bidang ilmu kesehatan, seperti akupunktur dan
moksibusi, fisioterapi, serta ilmu komputer.
Pengembangan
pendidikan inklusif NTUT juga semakin diperluas melalui Fakultas Studi Keberagaman dan Inklusi yang mulai menerima
mahasiswa pada April 2025. Kehadiran fakultas tersebut menjadi salah satu
langkah strategis dalam mengembangkan keilmuan sekaligus praktik pendidikan
yang menempatkan keberagaman sebagai bagian penting dalam lingkungan akademik.
Salah
satu hal penting yang menjadi perhatian delegasi UBMG adalah pendekatan
kurikulum NTUT yang tidak hanya berfokus pada kompetensi bidang keahlian.
Mahasiswa juga mendapatkan pendidikan umum dan seni liberal, bahasa isyarat
Jepang dan Amerika, bahasa asing, pendidikan jasmani, pendidikan karier, hingga
sains data.
Pendekatan
tersebut menunjukkan bahwa pendidikan inklusif tidak berhenti pada penyediaan
akses fisik maupun fasilitas pendukung. Lebih jauh, pendidikan inklusif perlu
menghadirkan lingkungan pembelajaran yang mampu mengembangkan kompetensi akademik, kemandirian, kemampuan
berinteraksi, kesiapan karier, serta potensi setiap mahasiswa.
Setelah
sesi pemaparan, delegasi UBMG dibagi menjadi dua kelompok untuk melakukan
observasi lingkungan belajar sekaligus mengenal berbagai teknologi accessibility
service yang digunakan NTUT. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi
tanya jawab untuk menggali pengalaman NTUT dalam menghadirkan layanan,
teknologi, dan lingkungan akademik yang responsif terhadap kebutuhan mahasiswa
penyandang disabilitas.
Bagi
UBMG, kunjungan tersebut menjadi ruang pembelajaran penting untuk melihat
secara langsung bagaimana perguruan tinggi dapat membangun sistem pendidikan
yang menempatkan aksesibilitas dan kesetaraan sebagai bagian dari kualitas
layanan akademik.
Kunjungan
ke NTUT diharapkan menjadi referensi bagi UBMG dalam memperkuat peran Unit Layanan Disabilitas (ULD)
sekaligus mengembangkan ekosistem kampus yang semakin ramah, aksesibel, dan
responsif terhadap keberagaman kebutuhan mahasiswa.
Melalui
pembelajaran internasional tersebut, UBMG tidak hanya memperluas jejaring
akademik global, tetapi juga membawa pulang wawasan dan praktik yang dapat
menjadi inspirasi dalam pengembangan layanan pendidikan di lingkungan kampus.
Langkah
ini sekaligus menegaskan arah UBMG untuk terus menghadirkan pendidikan tinggi
yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga pada
pembentukan lingkungan belajar yang setara,
inklusif, berkarakter, dan mampu memberikan ruang bagi setiap mahasiswa untuk
berkembang sesuai potensinya.
Upaya
tersebut menjadi bagian dari komitmen UBMG dalam mewujudkan visi “Unggul, Berkarakter dan Mengglobal”,
dengan menjadikan internasionalisasi dan pendidikan inklusif sebagai bagian
dari penguatan mutu serta daya saing perguruan tinggi.