Kampus
UBMG – Universitas Bina Mandiri
Gorontalo (UBMG) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung transformasi
pendidikan tinggi yang inklusif dan berdaya saing global melalui partisipasi
pada hari pertama lokakarya "Understanding
Disability & Partner Universities" yang diselenggarakan oleh Pijar Foundation bekerja sama dengan KRISAN Fellowship, di Kantor Pijar
Foundation, Jakarta, pada Rabu
(5/8/2026).
Dalam kegiatan tersebut, UBMG
diwakili oleh Dr. Ayu Anastasya Rachman, M.A dan Dr. Imam Mashudi, M.Pd. yang
bergabung bersama perwakilan berbagai perguruan tinggi mitra dari seluruh
Indonesia, aktivis penyandang disabilitas, praktisi layanan disabilitas, serta
narasumber dari Jepang. Lokakarya ini menjadi bagian dari upaya memperkuat
kapasitas perguruan tinggi dalam mengembangkan Unit Layanan Disabilitas (ULD) sekaligus mempersiapkan kampus
mitra mengikuti program KRISAN
Fellowship di Jepang.
Pada hari pertama, peserta memperoleh
pemahaman komprehensif mengenai konsep pendidikan tinggi inklusif, pengembangan
layanan bagi mahasiswa penyandang disabilitas, serta strategi menciptakan
lingkungan kampus yang aman, nyaman, dan aksesibel bagi seluruh sivitas
akademika. Berbagai materi yang disampaikan menekankan pentingnya penyediaan
layanan yang setara sebagai bagian dari implementasi pendidikan berkualitas
tanpa diskriminasi.
Tidak hanya mengikuti sesi pemaparan
materi, peserta juga terlibat dalam asesmen lingkungan yang mensimulasikan
pengalaman pengguna kursi roda. Melalui simulasi tersebut, peserta diajak
merasakan secara langsung bagaimana desain fasilitas seperti ramp, permukaan lantai, pintu, hingga
tata ruang dapat menjadi faktor pendukung maupun penghambat aksesibilitas bagi
penyandang disabilitas.
Pengalaman tersebut memperkuat
pemahaman peserta terhadap model sosial
disabilitas, yaitu pendekatan yang memandang hambatan bukan terletak
pada kondisi individu, melainkan pada lingkungan dan sistem yang belum
sepenuhnya inklusif. Perspektif ini menjadi dasar penting bagi perguruan tinggi
dalam merancang kebijakan, layanan, serta fasilitas yang mampu mengakomodasi
kebutuhan seluruh mahasiswa secara adil dan setara.
Selain membahas konsep reasonable accommodation (akomodasi
yang layak) dan penyusunan Individual
Support Plan (Rencana Dukungan Individual) bagi mahasiswa penyandang
disabilitas, lokakarya juga menghadirkan ruang diskusi mengenai praktik-praktik
terbaik dari Jepang dalam penyelenggaraan layanan disabilitas di perguruan
tinggi. Berbagai peluang kolaborasi internasional, baik dalam bidang
penelitian, pengembangan kebijakan, maupun peningkatan kapasitas sumber daya
manusia, turut menjadi bagian penting dalam pembahasan.
Melalui kegiatan ini, UBMG
memperoleh wawasan dan pengalaman yang dapat menjadi referensi dalam memperkuat
kebijakan internal, menyusun standar operasional prosedur layanan disabilitas,
serta mengembangkan sistem pendampingan yang lebih efektif di lingkungan
kampus. Keikutsertaan UBMG juga menjadi wujud komitmen universitas dalam
menghadirkan lingkungan akademik yang inklusif, adaptif, dan memberikan
kesempatan yang setara bagi seluruh mahasiswa tanpa terkecuali.
Pijar Foundation berharap lokakarya
ini menjadi langkah awal transformasi sistemik pendidikan tinggi Indonesia
menuju kampus yang lebih aksesibel, aman, dan ramah bagi semua. Melalui
jejaring KRISAN Fellowship serta kolaborasi dengan para ahli dari Jepang,
perguruan tinggi mitra diharapkan mampu menghadirkan layanan pendidikan yang
berkualitas tanpa diskriminasi, sehingga setiap mahasiswa memiliki kesempatan
yang sama untuk berkembang dan meraih prestasi.
Partisipasi UBMG dalam forum ini
sekaligus mempertegas komitmen universitas dalam mendukung agenda
internasionalisasi pendidikan tinggi serta implementasi Sustainable Development Goals (SDGs). Sejalan dengan visi Unggul, Berkarakter, dan Mengglobal,
UBMG terus memperluas jejaring kolaborasi nasional maupun internasional guna
menghadirkan pendidikan tinggi yang inovatif, inklusif, dan berdaya saing
global.