UBMG Tampilkan Action Plan Pendidikan Inklusif di Forum Nasional KRISAN Fellowship, Perkuat Komitmen sebagai Kampus Ramah Disabilitas

7 Agustus 2026 Akademik
UBMG Tampilkan Action Plan Pendidikan Inklusif di Forum Nasional KRISAN Fellowship, Perkuat Komitmen sebagai Kampus Ramah Disabilitas

KAMPUS UBMG – Universitas Bina Mandiri Gorontalo (UBMG) kembali menegaskan komitmennya dalam mewujudkan pendidikan tinggi yang inklusif melalui partisipasi aktif pada hari kedua lokakarya "Understanding Disability & Partner Universities" yang diselenggarakan oleh Pijar Foundation bersama KRISAN Fellowship di Kantor Pijar Foundation, Jakarta, Kamis (6/8/2026).


Hari kedua lokakarya difokuskan pada pemaparan Action Plan dari lima perguruan tinggi mitra yang mengikuti program KRISAN Fellowship. Pada kesempatan tersebut, UBMG diwakili oleh Dr. Ayu Anastasya Rachman, M.A. dan Dr. Imam Mashudi, M.Pd., yang mempresentasikan rencana aksi penguatan layanan bagi mahasiswa penyandang disabilitas. Keikutsertaan UBMG menjadi istimewa karena merupakan satu-satunya perguruan tinggi di lingkungan LLDIKTI Wilayah XVI yang telah memiliki Unit Layanan Disabilitas (ULD) yang aktif.


Dalam presentasinya, UBMG mengusung tema "Penguatan Sistem Layanan dan Kemandirian Mahasiswa Disabilitas" sebagai bentuk komitmen dalam membangun ekosistem pendidikan tinggi yang lebih inklusif, adaptif, dan berkelanjutan. Rencana aksi tersebut dirancang untuk diimplementasikan dalam kurun waktu tiga bulan melalui empat program prioritas.


Empat program tersebut meliputi penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) Akomodasi yang Layak, pengembangan guidebook digital bagi dosen dan relawan pendamping, uji coba Rencana Dukungan Individual (RDI) bagi mahasiswa penyandang disabilitas, serta penyelenggaraan Seminar HUYULA yang akan melibatkan mahasiswa penyandang disabilitas dan siswa Sekolah Luar Biasa (SLB) di Provinsi Gorontalo.


Seminar HUYULA diangkat sebagai salah satu program unggulan karena mengadopsi filosofi lokal Gorontalo yang bermakna gotong royong. Nilai tersebut menjadi landasan dalam membangun budaya kampus yang inklusif melalui penguatan hak yang setara, peningkatan kemampuan self-advocacy, pengembangan rasa percaya diri, kemandirian, literasi digital, serta penguatan jejaring komunitas penyandang disabilitas.


Presentasi UBMG mendapat apresiasi dan berbagai masukan konstruktif dari fasilitator KRISAN Fellowship maupun perguruan tinggi mitra. Berbagai saran tersebut akan menjadi bahan penyempurnaan implementasi program sehingga mampu memberikan dampak yang lebih luas dalam meningkatkan kualitas layanan bagi mahasiswa penyandang disabilitas.


Dalam diskusi kolektif yang melibatkan lima perguruan tinggi mitra, fasilitator KRISAN Fellowship merumuskan dua luaran utama yang menjadi komitmen bersama, yaitu penyusunan SOP layanan disabilitas sebagai pedoman resmi penyediaan akomodasi yang layak serta pengembangan guidebook praktis bagi dosen, tenaga kependidikan, dan pendamping sebaya dalam memberikan layanan pembelajaran yang inklusif.


Dokumen SOP diharapkan menjadi acuan standar dalam proses permohonan hingga pemberian akomodasi yang layak bagi mahasiswa penyandang disabilitas. Sementara itu, guidebook akan menjadi panduan praktis bagi sivitas akademika dalam menciptakan lingkungan belajar yang ramah, setara, dan mudah diakses oleh seluruh mahasiswa.


Kegiatan hari kedua ini menegaskan komitmen bersama seluruh perguruan tinggi mitra untuk bergerak dari tahap pemahaman menuju aksi nyata dalam mewujudkan pendidikan tinggi yang inklusif. Melalui KRISAN Fellowship serta dukungan jejaring pakar dari Jepang, berbagai action plan yang telah disusun seperti yang dipresentasikan UBMG, diharapkan mampu menjadi model praktik baik (best practice) yang dapat direplikasi oleh perguruan tinggi lain di Indonesia.


Keikutsertaan UBMG dalam forum nasional ini semakin memperkuat posisi universitas sebagai kampus yang adaptif terhadap isu-isu strategis pendidikan tinggi, khususnya dalam pengembangan layanan bagi mahasiswa penyandang disabilitas. Melalui penguatan Unit Layanan Disabilitas (ULD) dan berbagai inovasi program yang berorientasi pada kesetaraan akses pendidikan, UBMG terus membuktikan komitmennya dalam menciptakan lingkungan akademik yang inklusif, humanis, dan berdaya saing global. Langkah ini sejalan dengan visi UBMG untuk menjadi perguruan tinggi unggul yang menghasilkan sumber daya manusia unggul, berkarakter, mengglobal, serta mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat di tingkat nasional maupun internasional.

Bagikan artikel ini:
Facebook WhatsApp
)