Kampus UBMG - Universitas Bina Mandiri Gorontalo (UBMG) terus mengambil langkah strategis dalam memperkuat tata kelola kelembagaan sebagai fondasi utama peningkatan mutu dan daya saing perguruan tinggi swasta. Salah satu upaya konkret tersebut diwujudkan melalui Kuliah Pakar dengan menghadirkan Guru Besar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Prof. Dr. Elisa Meiyani, M.Si, yang mengangkat tema “Good Corporate Governance dalam Meningkatkan Reputasi dan Daya Saing Perguruan Tinggi Swasta (PTS)”.
Kegiatan yang dilaksanakan di Aztin Convention Center Kampus UBMG, Sabtu (17/1/2026), ini diikuti oleh ratusan mahasiswa perwakilan dari berbagai Program Studi (Prodi) di lingkungan UBMG. Kehadiran mahasiswa lintas disiplin ini menunjukkan komitmen UBMG dalam membangun pemahaman bersama tentang pentingnya tata kelola institusi yang profesional, transparan, dan berorientasi pada mutu.
Kuliah pakar dipandu oleh Ketua Program Studi Akuntansi Sektor Publik, Fakultas Pemerintahan dan Sektor Publik (FPSP) UBMG, Dedy Suryadi, M.Ak, yang mengemas diskusi secara interaktif dan komunikatif, sehingga materi yang disampaikan dapat dipahami secara komprehensif oleh peserta.
Dalam pemaparannya, Prof. Dr. Elisa Meiyani menjelaskan bahwa Good Corporate Governance (GCG) merupakan sistem tata kelola yang mengatur hubungan dan peran antara pemilik, pengawas, pengelola, serta seluruh pemangku kepentingan dalam suatu organisasi, termasuk perguruan tinggi. Menurutnya, penerapan GCG di lingkungan PTS menjadi kunci utama dalam menciptakan institusi yang akuntabel, efisien secara keuangan, serta unggul dalam mutu akademik.
“Di era persaingan pendidikan tinggi saat ini, reputasi kampus sangat ditentukan oleh kualitas tata kelolanya. Banyak calon mahasiswa memilih perguruan tinggi bukan hanya karena fasilitas, tetapi juga karena kepercayaan terhadap manajemen, integritas akademik, dan layanan institusinya,” ungkap Prof. Elisa.
Ia juga menguraikan latar belakang lahirnya konsep Good Corporate Governance yang bermula di Amerika Serikat pada dekade 1970-an, sebagai respons terhadap berbagai skandal keuangan besar yang melibatkan korporasi ternama. Sementara itu, di Inggris, Cadbury Report tahun 1992 menjadi tonggak penting dalam penguatan prinsip-prinsip GCG untuk mencegah kegagalan perusahaan dan menciptakan tata kelola yang sehat dan berkelanjutan.
Di Indonesia, konsep GCG mulai diadopsi secara sistematis pada masa pemerintahan Presiden BJ Habibie, dengan tujuan utama mencegah praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme, sekaligus memperbaiki citra tata kelola lembaga di mata publik. Hingga kini, penerapan GCG menjadi standar wajib di berbagai sektor, termasuk sektor keuangan yang diawasi langsung oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Penerapan Good Corporate Governance (GCG) di perguruan tinggi memiliki dampak langsung terhadap kualitas pengalaman akademik mahasiswa. Tata kelola yang transparan dan akuntabel memastikan bahwa kebijakan akademik, layanan pendidikan, serta pengelolaan keuangan kampus dijalankan secara profesional dan berpihak pada mutu pembelajaran.
Melalui GCG, mahasiswa memperoleh kepastian layanan akademik yang adil dan berkualitas, mulai dari proses pembelajaran, penilaian, hingga pengelolaan administrasi akademik. Sistem tata kelola yang baik juga mendorong terciptanya iklim akademik yang sehat, menjunjung tinggi integritas, kejujuran ilmiah, dan etika akademik.
Selain itu, GCG membentuk mahasiswa menjadi insan yang berkarakter dan berintegritas, karena terbiasa berada dalam lingkungan institusi yang menjunjung nilai transparansi, tanggung jawab, dan profesionalisme. Mahasiswa tidak hanya dididik secara keilmuan, tetapi juga disiapkan sebagai calon pemimpin dan profesional masa depan yang memahami pentingnya tata kelola yang baik dalam organisasi.
Penerapan GCG di PTS tidak hanya berdampak pada tata kelola institusi, tetapi juga menentukan kualitas layanan akademik yang diterima mahasiswa," jelas Prof. Elisa. Dengan tata kelola yang transparan dan akuntabel, mahasiswa mendapatkan kepastian mutu pembelajaran, keadilan layanan, serta lingkungan akademik yang menjunjung tinggi integritas.
Penerapan GCG juga berdampak pada peningkatan reputasi perguruan tinggi, yang secara langsung meningkatkan nilai lulusan di mata dunia kerja dan masyarakat. Dengan tata kelola yang baik, kampus mampu menjalin kerja sama strategis yang lebih luas, memperkuat jejaring industri, serta membuka peluang pengembangan karier yang lebih besar bagi mahasiswa.
Lebih lanjut, Prof. Elisa menegaskan bahwa prinsip-prinsip utama Good Corporate Governance meliputi transparansi, keadilan, akuntabilitas, tanggung jawab, dan independensi. Penerapan prinsip tersebut diyakini mampu meningkatkan efektivitas manajemen risiko, efisiensi penggunaan sumber daya, serta mendorong pengambilan keputusan berbasis data dan sistem yang terstruktur.
“Perguruan tinggi yang menerapkan GCG secara konsisten akan lebih siap menghadapi dinamika perubahan regulasi, lebih dipercaya masyarakat, serta mampu menjaga reputasi institusi dalam jangka panjang,” jelasnya.
Dalam konteks UBMG, Prof. Elisa menyampaikan harapan agar kampus ini dapat menjadi role model perguruan tinggi swasta di kawasan Sulawesi dalam penerapan Good Corporate Governance. Implementasi GCG, menurutnya, harus melibatkan seluruh unsur kelembagaan, mulai dari Yayasan, Rektorat, Senat Akademik melalui sistem penjaminan mutu, LPPM, hingga stakeholder utama seperti dosen, mahasiswa, dan masyarakat.
Ia juga menekankan bahwa penerapan GCG bukan sekadar tuntutan administratif, melainkan kebutuhan strategis untuk membangun institusi pendidikan tinggi yang adaptif, berintegritas, dan berdaya saing global.
"Dengan demikian, Good Corporate Governance bukan sekadar konsep manajerial, melainkan fondasi strategis dalam menciptakan pengalaman belajar yang bermutu, adil, dan berkelanjutan, sekaligus menempatkan mahasiswa sebagai subjek utama dalam pembangunan PTS yang unggul," tegas Prof. Elisa.
Kegiatan kuliah pakar ini semakin menarik dengan sesi diskusi yang berlangsung dinamis, di mana mahasiswa aktif mengajukan pertanyaan kritis terkait transparansi tata kelola, mekanisme pengawasan internal, serta implementasi GCG di institusi pendidikan tinggi.
Melalui kegiatan ini, Universitas Bina Mandiri Gorontalo menegaskan komitmennya untuk terus bertransformasi menjadi perguruan tinggi swasta yang unggul dalam tata kelola, kuat dalam reputasi, serta responsif terhadap tuntutan zaman.
"Wujud penerapan Good Corporate Governance diyakini menjadi fondasi utama dalam memperkuat kepercayaan publik dan meningkatkan daya saing bagi PTS di tingkat regional, nasional, hingga global, Ke depan Kampus UBMG akan menerapkannya," tutup Moderator Dedy Suryadi. (hms)