Kampus UBMG – Universitas Bina Mandiri Gorontalo (UBMG) terus menunjukkan komitmennya dalam memperkuat tata kelola perguruan tinggi yang adaptif dan berdaya saing melalui pelaksanaan Focus Group Discussion (FGD) yang menghadirkan narasumber nasional dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, bertempat di Aztin Convention Center Kampus UBMG, Sabtu (17/1/2026).
Kegiatan strategis tersebut menghadirkan Kepala Biro Perencanaan, Keuangan, Umum, dan SDM Kemendiktisaintek RI, Dr. Bhimo Widyo Andoko, MH, sebagai narasumber utama. Dengan Moderator, Ismail Tahir, Ph.D.
Narasumber, Dr. Bhimo juga pernah menjabat sebagai Kepala LLDikti Wilayah VI Jawa Tengah, serta pernah menjabat Atase Pendidikan dan Kebudayaan di Washington DC - Amerika Serikat, serta memiliki rekam jejak panjang dalam kebijakan pendidikan tinggi dan publikasi ilmiah.
Dalam paparannya, Dr. Bhimo menekankan bahwa tantangan utama perguruan tinggi saat ini adalah menjaga integritas akademik di tengah perubahan regulasi dan dinamika global. Ia mengingatkan bahwa integritas akademisi kerap diuji oleh praktik-praktik yang tidak sesuai dengan nilai etik dan tata kelola yang baik.
“Integritas akademik saat ini sedang diuji. Tantangan terbesar bukan hanya soal regulasi, tetapi bagaimana seluruh sivitas akademika tetap bekerja dengan cara yang benar dan beretika,” tegas Dr. Bhimo.
Ia juga membagikan pengalamannya selama berkiprah di kementerian maupun di lingkungan kampus, khususnya dalam membangun interaksi kerja yang sehat, memahami peran masing-masing pimpinan—mulai dari wakil rektor hingga kepala biro—serta mendorong kinerja institusi yang optimal dan terukur.
Dr. Bhimo mencontohkan praktik baik penerapan digitalisasi tata kelola, di mana suatu daerah berhasil meningkatkan efektivitas kerja melalui penggunaan aplikasi terintegrasi yang valid dan mudah dipantau, sehingga pimpinan dapat mengawasi progres pekerjaan secara real time dan berbasis data.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya penerapan prinsip Good University Governance, meliputi transparansi, akuntabilitas, efektivitas dan efisiensi, penjaminan mutu berkelanjutan, serta independensi, sebagai fondasi utama dalam menghadapi tantangan global dan perubahan regulasi yang dinamis.
Dalam konteks kepemimpinan perguruan tinggi, Dr. Bhimo menilai bahwa model kepemimpinan yang adaptif dan kontekstual sangat dibutuhkan, termasuk memperhatikan aspek budaya dan karakteristik daerah, agar kebijakan dan pengelolaan SDM dapat berjalan lebih humanis dan efektif.
Dari sisi struktur organisasi, perguruan tinggi dituntut memiliki organisasi yang fleksibel dan lincah, sehingga mampu merespons cepat perubahan dan tuntutan zaman. Sementara itu, pada aspek Sumber Daya Manusia (SDM), Dr. Bhimo menekankan pentingnya rekrutmen dosen yang berkualitas serta penguatan kapasitas melalui pelatihan berkelanjutan, peningkatan kompetensi, keahlian, dan etika akademik.
“Investasi dalam pengembangan SDM bukan hanya meningkatkan kualitas internal, tetapi juga memperkuat posisi Perguruan Tinggi Swasta dalam menghadapi persaingan global,” ujarnya.
FGD ini juga mengulas pentingnya pengukuran tingkat digitalisasi layanan dan proses akademik secara kuantitatif, agar capaian dapat dimanfaatkan sebagai dasar perencanaan dan pengambilan kebijakan yang cepat, tepat, dan berbasis data.
Dalam kesempatan tersebut, Dr. Bhimo mengapresiasi Kampus UBMG sebagai perguruan tinggi yang adaptif dan proaktif, khususnya dalam menyesuaikan diri dengan regulasi terbaru, menjaga kepatuhan terhadap sistem mutu dan proses akademik, serta aktif menyelenggarakan pelatihan dan workshop untuk peningkatan kapasitas SDM.
Ia menegaskan bahwa Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) harus menjadi “jantung” perguruan tinggi dalam memantau dan memastikan kualitas seluruh layanan akademik dan non-akademik. Penguatan SPMI perlu didukung dengan survey kepuasan publik yang terbuka, indikator capaian yang terukur, serta masukan langsung dari pemangku kepentingan.
Menurutnya, langkah tersebut tidak hanya meningkatkan kualitas layanan, tetapi juga mendorong kepercayaan dan animo masyarakat terhadap perguruan tinggi. Data hasil survei dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan strategis, termasuk pengembangan kebijakan dan peningkatan citra institusi.
Selain itu, Dr. Bhimo menekankan pentingnya penguatan tracer study, guna memetakan keberhasilan lulusan dalam memperoleh pekerjaan dalam rentang waktu enam bulan atau lebih, serta kesesuaian bidang kerja dengan kompetensi keilmuan. Pengukuran pengalaman mahasiswa dalam program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) juga dinilai krusial sebagai bagian dari indikator mutu pendidikan tinggi.
Secara keseluruhan, FGD ini menegaskan bahwa penguatan tata kelola, kepemimpinan adaptif, sistem penjaminan mutu yang kuat, SDM unggul, serta dukungan teknologi informasi merupakan kunci keberlanjutan Perguruan Tinggi Swasta di tengah regulasi yang terus berkembang.
Dengan langkah-langkah strategis tersebut, Universitas Bina Mandiri Gorontalo optimistis dapat mewujudkan visinya sebagai perguruan tinggi yang Unggul, Berkarakter, dan Mengglobal.
Kegiatan FGD berlangsung dalam suasana dinamis dan interaktif, ditandai dengan sesi diskusi dan tanya jawab yang konstruktif, termasuk pembahasan mengenai peran strategis dosen dalam mendidik mahasiswa serta bentuk penghargaan negara terhadap dosen sebagai pilar utama dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. (hms)